Rahasia Jokowi Tak Terkalahkan
Oleh: Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting
Dalam sebuah podcast politik belum lama ini, Hasan Nasbi mencoba mengulik strategi Joko Widodo. Menurutnya, ada satu kunci utama yang membuat Jokowi selalu menang.
Rahasianya? Jokowi disebut sebagai penganut Sun Tzu sejati. Hasan sendiri mengaku tak tahu pasti apakah presiden kita ini benar-benar membaca buku sang ahli strategi perang Tiongkok itu. Tapi polanya, katanya, persis.
"Jokowi itu menang dulu, baru mau ikut berperang," ujar Hasan.
Pernyataan itu ia lontarkan dalam Podcast Total Politik. Intinya, Jokowi harus yakin dulu bisa menang. Kalau peluangnya kecil, ia tak akan turun gelanggang. Ini berbeda dengan banyak politisi lain yang sering bertarung dulu, urusan menang atau kalah dipikirkan belakangan.
Logika itu, bagi Hasan, menjelaskan mengapa Jokowi tak pernah kalah dalam kontestasi politik. Dari Pilkada, Pilgub, sampai Pilpres. Bahkan saat ia membiarkan atau mungkin menyorongkan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2024.
Memang, ada banyak dugaan yang menyeruak. Kecurangan, peran aparat, bansos, dan perubahan syarat pencapresan di MK. Tapi faktanya, pasangan itu menang. Bahkan menang telak. Di mata publik, kemenangan itu membuat berbagai dugaan tadi seolah kehilangan pijakan.
Jokowi bukan tipe orang gegabah. Ia tak akan seperti Ahmad Ali yang sejak awal sudah berkoar-koar soal Gibran melawan Prabowo. Meski peluangnya ada, Jokowi lebih suka menghitung matang-matang. Sampai detik terakhir. Makanya ia cuma bilang, Prabowo-Gibran dua periode. Titik.
Di sisi lain, politik memang penuh kejutan. Ada juga yang bertarung modal pas-pasan tapi akhirnya menang. Ambil contoh Pramono Anung melawan Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta. Elektabilitasnya awalnya cuma nol koma, sementara RK sudah mendekati 50 persen. Tapi yang menang justru Pramono.
Atau yang lebih dulu, Anies Baswedan melawan Ahok di 2012. Artinya, medan pertarungan itu sendiri punya dinamikanya sendiri. Kasus Pramono bukan yang pertama. Anies sudah merasakannya. Bahkan Jokowi sendiri dulu, saat melawan Fauzi Bowo, juga dianggap bukan favorit.
Namun begitu, politik kontestasi tentu beda dengan perang sungguhan. Perang asli cuma punya dua akhir: menang atau kalah; hidup atau mati. Dalam politik, orang bisa ikut pemilihan tanpa niat menang sekalipun.
Ikut bertarung meski tahu akan kalah, itu sendiri sudah sebuah kemenangan. Makna kemenangan di sini jadi lebih luas. Apalagi di pemilu serentak 2029 nanti, yang syaratnya lebih longgar.
Bisa saja seorang kandidat kalah di Pilpres, tapi partainya menambah kursi di DPR. Suaranya membesar. Jadi, strategi ala Sun Tzu yang dianggap diterapkan Jokowi itu, belum tentu ampuh untuk situasi 2029 nanti. Medannya sudah berubah. Permainannya pun lain.
Artikel Terkait
Jalan Sidrap-Soppeng Semakin Rusak, Genangan Air Sembunyikan Lubang Berbahaya
Polemik Ikan Sapu-Sapu di Sungai Sa’dan: Pemda Toraja Utara Belum Temukan Bukti, Ahli Dorong Pendekatan Lingkungan
Anggota DPR: Nasib 1,6 Juta Guru Honorer Masih Jauh dari Layak, Negara Dinilai Abaikan Hak Konstitusional
Polisi Tangkap Empat Pemuda Dalang Aksi Brutal Geng Motor di Makassar