Di sisi lain, Megawati juga menegaskan kembali pentingnya figur Hoegeng bagi institusi Polri. Sebagai presiden yang pernah mengesahkan undang-undang yang memisahkan Polri dari TNI, ia paham betul nilai keteladanan seperti apa yang dibutuhkan. Hoegeng, baginya, adalah contoh nyata.
Pengalaman pribadinya bertemu sang jenderal di jalan saat masih kuliah pun ia ceritakan. Bayangkan, seorang Kapolri bersepeda dengan seragam dinasnya di tengah jalanan Jakarta.
“Saking sederhananya, Pak Hoegeng bahkan belum memiliki rumah sendiri saat itu,” ujarnya.
Menurut Megawati, di balik keteguhan dan kejujuran Hoegeng, peran Meriyati Roeslani sangatlah besar. Dialah pendamping setia yang membentuk dan mendukung suaminya menjadi sosok yang dicintai rakyat.
“Saya sebagai warga negara dan pengagum Pak Hoegeng merasa sangat kehilangan,” tuturnya.
“Tante Meri punya peran besar dalam membentuk keteguhan dan kesederhanaan Pak Hoegeng.”
Namun begitu, karena sedang menjalankan kunjungan kerja di Uni Emirat Arab untuk mengikuti rangkaian Zayed Award, Megawati terpaksa memohon maaf karena tak bisa melayat secara langsung. Rasa sesal dan haru itu tetap ada.
“Selamat jalan, Tante Meri,” ucap Megawati, sambil meneteskan air mata untuk kepergian Eyang Meri. Sebuah perpisahan untuk seorang ibu, sekaligus penjaga kenangan tentang sebuah integritas yang langka.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral