Namun begitu, Sudarnoto punya catatan pedas. Menurutnya, perdamaian yang sejati harus dibarengi dengan keadilan. Dan di situlah letak persoalannya.
Ia melihat isu perdamaian dan keadilan global justru sedang diobrak-abrik oleh rezim Amerika. Posisi Indonesia, sebagai negara yang sejak dulu konsisten melawan penjajahan, harus tetap kokoh. Konsistensi membela Palestina dan menentang pendudukan Israel yang didukung AS, tak boleh goyah.
Lantas, bagaimana melawan ketidakadilan? Sudarnoto menekankan cara-cara yang beradab. Diplomasi yang bermartabat, menurutnya, adalah senjata utama. Dan Indonesia, dengan fondasi Pancasila, punya peluang besar untuk menunjukkan kemampuan itu. Sejarah panjang bangsa ini sudah membuktikannya.
Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi sekaligus komitmen.
Pertemuan di Istana itu telah usai. Sekarang, tinggal menunggu tindak lanjut dan buah dari dialog yang diharapkan banyak pihak itu.
Artikel Terkait
Tiga Peran Kunci Indonesia di Panggung Global: Modal atau Beban di Dewan Perdamaian Gaza?
Wacana TKA untuk SNBP Dikritik, Siswa SMK dan Daerah 3T Dikhawatirkan Terdampak
Kebocoran Data Kominfo: CV dan Ijazah Ribuan Pelamar Terbuka untuk Publik
Pemilik Toko Jadi Tersangka Usai Tangkap Maling Sendiri