Namun begitu, Sudarnoto punya catatan pedas. Menurutnya, perdamaian yang sejati harus dibarengi dengan keadilan. Dan di situlah letak persoalannya.
Ia melihat isu perdamaian dan keadilan global justru sedang diobrak-abrik oleh rezim Amerika. Posisi Indonesia, sebagai negara yang sejak dulu konsisten melawan penjajahan, harus tetap kokoh. Konsistensi membela Palestina dan menentang pendudukan Israel yang didukung AS, tak boleh goyah.
Lantas, bagaimana melawan ketidakadilan? Sudarnoto menekankan cara-cara yang beradab. Diplomasi yang bermartabat, menurutnya, adalah senjata utama. Dan Indonesia, dengan fondasi Pancasila, punya peluang besar untuk menunjukkan kemampuan itu. Sejarah panjang bangsa ini sudah membuktikannya.
Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi sekaligus komitmen.
Pertemuan di Istana itu telah usai. Sekarang, tinggal menunggu tindak lanjut dan buah dari dialog yang diharapkan banyak pihak itu.
Artikel Terkait
Khatib di Makassar Ingatkan Jemaah Idul Fitri untuk Berbakti kepada Orang Tua
Bournemouth Tahan Imbang Manchester United 2-2 dalam Drama Gol Bunuh Diri dan Kartu Merah
Tewas di Tepi Sungai Lasolo, Abdul Kahar Muzakkar Akhiri Pemberontakan 12 Tahun
Napoli Amankan Kemenangan Tipis 1-0 atas Cagliari Berkat Gol Kilat McTominay