Di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama. Agenda utamanya? Membahas rencana bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pertemuan ini jelas menyimpan bobot politik yang tidak ringan.
Hadir dalam kesempatan itu berbagai nama penting. Mulai dari Ketua Umum MUI Anwar Iskandar beserta jajarannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar, hingga tokoh seperti Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun. Dari kalangan Nahdlatul Ulama, tampak Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi dan Khofifah Indar Parawansa, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta perwakilan dari Hidayatullah, Naspi Arsyad dan Nanang Noerpatria.
Merespon undangan tersebut, Sudarnoto Abdul Hakim dari MUI Bidang Hubungan Luar Negeri mengaku bersyukur. Baginya, langkah Prabowo membuka komunikasi langsung dengan para tokoh kunci adalah sebuah langkah tepat.
Tanpa dialog semacam ini, menurutnya, bisa timbul masalah serius di dalam negeri. Ia khawatir terjadi keterbelahan antara pemerintah dan rakyat.
Harapannya, pertemuan ini tak sekadar seremonial. Ia ingin hasilnya benar-benar membawa manfaat bagi kepentingan nasional Indonesia, juga bagi Palestina dan upaya global menciptakan perdamaian yang berkeadilan.
Poin ini ia anggap krusial. Komitmen Indonesia membela kemerdekaan Palestina dan menuntut pertanggungjawaban Israel, harus diwujudkan melalui jalan diplomasi yang cerdas. Jalan yang sejalan dengan amanat konstitusi dan hukum internasional, tentunya.
Artikel Terkait
Tiga Peran Kunci Indonesia di Panggung Global: Modal atau Beban di Dewan Perdamaian Gaza?
Wacana TKA untuk SNBP Dikritik, Siswa SMK dan Daerah 3T Dikhawatirkan Terdampak
Kebocoran Data Kominfo: CV dan Ijazah Ribuan Pelamar Terbuka untuk Publik
Pemilik Toko Jadi Tersangka Usai Tangkap Maling Sendiri