Pertemuan Presiden dan Suara-Suara yang Selama Ini Terdengar Samar
Oleh: Joko Handipaningrat (Konsultan kreatif)
Pertemuan di Kertanegara beberapa hari lalu, antara Presiden dan sejumlah tokoh yang dikenal kritis, lebih dari sekadar agenda rutin. Itu sebuah terobosan. Bagi saya, momen itu membuka kembali sebuah ruang dialog yang lama terasa sumbat.
Pertanyaan yang sering muncul: untuk apa Presiden mendengar masukan dari luar? Bukankah di sekelilingnya sudah penuh dengan staf ahli dan menteri?
Pengalaman saya menjawabnya begini: persoalannya jarang terletak pada kualitas orang-orang di dalam istana. Yang sering jadi masalah justru mekanisme penyampaiannya sendiri. Jangan dibayangkan orang-orang terdekat Presiden bisa dengan mudah "membisiki" beliau, apalagi kalau usulannya datang dari bawah.
Saya punya cerita yang mungkin bisa memberi gambaran. Kembali ke Maret 2012, saat Partai Demokrat sedang diterpa badai. Beberapa kadernya berurusan dengan KPK, bahkan sudah ada yang divonis. Ramai sekali media memprediksi suara partai itu akan anjlok di Pemilu 2014.
Sebagai nahkoda, Presiden SBY yang juga Ketum PD kala itu, tentu harus bertindak.
Nah, di tengah situasi itu, saya malah dapat undangan ke Cikeas. Agendanya? Mempresentasikan Grand Strategi Komunikasi untuk menyelamatkan Partai Demokrat. Saya sendiri agak kaget.
Dari obrolan dengan seorang menteri, saya dapat cerita. Rupanya, nama saya muncul karena performa di sidang-sidang Komisi X DPR dulu dipantau. "Mas Joko dianggap sosok yang tepat," katanya.
Waktu di DPR dulu, saya memang sering presentasi soal strategi branding Indonesia dan pariwisata. Sampai-sampai, Herry Achmadi yang waktu itu jadi Ketua Komisi X pernah berseloroh ke Menteri Pariwisata, "Harusnya Mas Joko yang duduk di kursi Anda, Pak… karena dia tahu strategi yang tepat."
Jadi, dengan ditemani anak bungsu, saya berdiri di hadapan Presiden SBY, Ibu Negara, AHY, Mas Ibas, lima menteri, Kasad, plus sebelas staf ahli. Saya jabarkan strategi rebranding partai itu selama satu setengah jam penuh.
Inti strateginya sederhana: persepsi publik terhadap PD sangat dipengaruhi kinerja pemerintah sebagai ruling party. Saat itu, setidaknya ada sembilan program pemerintah yang sebenarnya bagus seperti KUR, listrik, peremajaan alutsista TNI, pemberantasan korupsi tapi komunikasinya buruk. Rakyat hampir tak merasakannya.
Usai presentasi, ruangan hening sejenak. Presiden SBY melihat ke sekeliling, menarik napas, lalu tersenyum.
"Mas Joko, this is a fascinating presentation. I’d say it’s definitely 'out of the box'," ujarnya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Soroti Maraknya Gas Whip Pink di Kalangan Remaja
Sidang Tuntutan Aktivis UNY Ditunda, Jaksa Akui Belum Siap
Elit Global dan Kejahatan yang Dilembagakan: Saat Hukum Melindungi Para Dalang
Soenarko Sindir Pernyataan Kapolri: Bukan Berlebihan, Tapi Konyol