Petunjuk kecil tentang corak pendidikannya cuma ada dalam catatan Pendeta Partonadi. Diceritakan, sebagai santri, Radin diwajibkan mengemis setiap Kamis untuk dana pondok. Selain itu, pesantren yang ia ikuti lebih menekankan pembentukan spiritual dan kerja fisik seperti bertani, beternak, dan kerja paruh waktu bukan pada pengkajian kitab-kitab Islam secara mendalam.
Lalu, bagaimana dengan bukti fisik? Di gereja Karangjoso, dari ratusan buku peninggalan Sadrach, hanya ada satu buku bernuansa Islam: sebuah kitab kecil setebal 200 halaman berhuruf Arab dan Jawa Pegon. Guillot menganggap ini bukti bahwa Sadrach pernah nyantri. Tapi, ya itu tadi, tidak ada kepastian bahwa catatan dalam buku itu benar-benar coretan tangannya sendiri. Bisa saja itu milik orang lain.
Menurut sejumlah saksi, ada tiga hal yang sering dikaitkan dengan latar Sadrach: kebiasaan mengemis, pendidikan yang menekankan kerja fisik, dan satu buku Islam yang kesepian di antara koleksinya. Kalau dirangkai dengan fakta lain seperti pertemuannya kembali dengan Sis Kanoman yang sudah lebih dulu masuk Kristen, klaim dirinya sebagai titisan Yesus, dan hobi menjual keris bertuah maka gambaran yang muncul justru lebih dekat ke seorang pelaku ngelmu peguron tingkat tinggi, semacam aliran kebatinan, bukan santri dari pesantren salaf yang mendalami fiqih atau tauhid.
Jadi, kembali ke pertanyaan awal: benarkah Sadrach pernah menjadi santri? Kalau mau jujur, jawabannya cuma satu: Ora Cetho. Tidak jelas. Kabur. Mungkin lebih tepat disebut sebagai bagian dari mitos yang melekat pada sosok kontroversial ini.
"
Terlepas dari perdebatan latar belakang pendidikannya, Kiai Sadrach tetaplah seorang figur penting. Ia menghabiskan sisa hidupnya di Purworejo, meninggal dalam usia sekitar 90 tahun, dan dikenang sebagai penginjil pribumi yang punya cara unik.
Caranya? Menyatu dengan budaya Jawa. Gereja yang ia dirikan tidak memakai salib, melainkan lambang cakra. Tata ruangnya menyerupai masjid Jawa. Pendekatannya ini menghindari penyeragaman budaya Barat membuat ajaran yang dibawanya lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat. Mereka bisa menerima Kristen tanpa merasa harus tercabut dari akar tradisinya.
Memang, jemaat yang dulu ia kumpulkan kini sudah tidak lagi utuh. Tapi jejaknya masih bisa dirasakan, terutama di sekitar Purworejo. Makamnya di Dusun Karangjoso, dengan cungkup atap bertingkat khas Jawa, masih terawat. Komunitas yang ia rintis, yang dulu disebut Pasamuwan Mardiko atau Jemaat Sadrach, adalah bukti dari sebuah eksperimen kontekstualisasi yang menarik pada masanya.
Artikel Terkait
Keyakinan yang Menjadi Kenyataan: Ketika Prasangka Baik Mengubah Takdir
Korban Pencurian Malah Ditahan, Usai Jebak Karyawan di Hotel
PPATK Dibanjiri 43 Juta Laporan, Nilai Transaksi Mencurigakan Tembus Rp 2.085 Triliun
Pompa Raksasa di Daan Mogot Dijanjikan Tuntaskan Banjir pada 2027