Kisahnya bermula dari sebuah toko handphone di Jalan Jamin Ginting, Deli Serdang. Pemiliknya, seorang pria berinisial PP, harus menelan pil pahit. Tokonya justru jadi sasaran orang dalam. Dua karyawan barunya, G dan T yang baru dua minggu bekerja, diduga tega menggasak sejumlah handphone, suku cadang, hingga alat servis. Peristiwa itu terjadi pada 22 September 2025 lalu.
Merasa dirugikan, PP pun melaporkan kejadian itu ke Polsek Pancur Batu. Nia Sihotang (38), kakak ipar PP, yang ikut urus perkara ini mengonfirmasi langkah tersebut.
“Setelah mengetahui itu (barang dicuri), adik kami PP, melaporkan ke Polsek Pancur Batu,” kata Nia saat ditemui di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Senin (2/2).
Laporan sudah dibuat, tapi PP rupanya tak tinggal diam. Ia dikabarkan berkomunikasi dengan salah seorang karyawannya yang perempuan, bernama Mutiara. Tujuannya satu: menjebak pelaku.
“Setelah si PP berbicara dengan si Mutiara, akhirnya si Mutiara sepakat dengan PP untuk memancing pelaku G. Karena belakangan kami ketahui mereka memang ada hubungan seperti berpacaran gitu,” ujar Nia.
Rencana pun disusun. Mutiara setuju untuk bertemu G keesokan harinya di sebuah hotel di Padang Bulan. Di tengah perjalanan membeli pakan ternak, Nia dan suaminya LS mendapat telepon mengejutkan dari penyidik Polsek Pancur Batu.
“Dalam telepon itu saya mendengar ‘Sen’ katanya gitu. ‘Ayo, kita sama-sama menangkap si pelaku’ katanya sudah ada di hotel,” Nia menirukan percakapan itu.
Nia sebenarnya keberatan. Menurutnya, urusan menangkap pelaku ya tugas polisi. Tapi suaminya, LS, merasa tidak enak hati menolak ajakan penyidik. Akhirnya, mereka pun ikut serta.
“Jadi pada saat itu saya keberatan juga kepada suami saya ‘ngapain kita ikut?’ biar polisi aja, saya bilang gitu. Karena suami saya merasa enggak enak. Nanti dikira enggak menghargai gitu, ya udah ayo katanya,” cerita Nia.
Sebelum menuju hotel, mereka sempat berkumpul dulu di sebuah kafe dekat perumahan Royal Sumatra bersama penyidik dan keluarga lain. “Kami sempat duduk di sana, minum bersama,” ucapnya.
Tak lama, telepon dari Mutiara datang. Pelaku G sudah ada di dalam kamar hotel. Situasi pun jadi serba mendesak.
“Suami saya ada di toilet. Kemudian saya gedor ‘ayo, mereka sudah mau pergi’. Suami saya turun, keluar dari toilet dan dibilang polisi ‘mana sen?’ katanya gitu. ‘Yaudah, ayo amankan saja, kalian amankan saja enggak apa-apa, setelah itu nanti serahkan kepada saya’ kata penyidik,” Nia mengisahkan detik-detik penangkapan.
Mereka lalu menuju kamar. Penyidik menunggu di pos hotel, sementara Nia beserta keluarga mengetuk pintu kamar pelaku.
“Begitu pintunya diketuk, dibuka, suami saya spontan lah dibilang membela diri agar tidak ditikam,” kenang Nia. Rupanya, G memegang pisau. Dalam aksi saling membela diri itu, G ditarik keluar kamar oleh LS, PP, W, dan S.
Nia bersikeras bahwa PP tidak menyentuh G. “Si PP enggak ada menyentuh. Setahu saya enggak ada menyentuh. Ditarik keluar lalu diserahkan kepada polisi tersebut,” tegasnya.
Berdasarkan informasi Mutiara, pelaku T ternyata ada di kamar nomor 23. PP yang mengejar dan menangkapnya, lalu menyerahkan ke polisi.
Menurut Nia, kabar tentang penganiayaan yang beredar di media sosial itu tidak benar. “Kami melihat sendiri, itu tidak ada penganiayaan,” ujarnya.
Ada yang Bukan Polisi
Di tengah kisruh ini, terungkap fakta mencengangkan. Orang yang ikut dalam operasi penangkapan itu, ternyata ada yang bukan polisi.
“Jadi kami kira itu kan temannya itu memang polisi. Satu penyidik asli polisi, satu lagi bukan polisi tapi mengaku polisi dari Polsek Pancur Batu,” imbuh Nia.
Orang tua pelaku G kemudian melaporkan dugaan penganiayaan. Alhasil, PP justru ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polrestabes Medan sejak 3 Januari 2026.
“Sejak 3 Januari 2026 ditahan si PP, pemilik toko sekaligus yang melapor di Polsek Pancur Batu,” kata Nia dengan nada prihatin.
Artikel Terkait
Tannos Kembali Ajukan Praperadilan, KPK Pastikan Ekstradisi Tak Terganggu
LC di Kemnaker: Dari Ladies Companion hingga Land Cruiser dalam Sidang Suap Sertifikasi
Pemilik Toko Ponsel Jadi Tersangka Usai Aniaya Karyawan Pencuri
Raymond Chin Bongkar Skandal Free Float: Mundurnya Pimpinan OJK & BEI Picu Ancaman Degradasi MSCI