Raymond Chin Bongkar Skandal Free Float: Mundurnya Pimpinan OJK & BEI Picu Ancaman Degradasi MSCI

- Selasa, 03 Februari 2026 | 12:23 WIB
Raymond Chin Bongkar Skandal Free Float: Mundurnya Pimpinan OJK & BEI Picu Ancaman Degradasi MSCI

MURIANETWORK.COM, Jakarta - Pasar modal Indonesia diguncang badai hebat pada akhir Januari lalu. Dalam rentang 48 jam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas, menghapus ratusan triliun rupiah dari nilai pasar. Kepanikan menjalar, trading terhenti berulang kali, dan puncaknya adalah pengunduran diri serentak sejumlah pucuk pimpinan regulator. Imam Rahmad selaku Direktur Bursa Efek Indonesia dan Mahendra Sirega, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, termasuk di antara yang meletakkan jabatan. Peristiwa ini disebut-sebut sebagai panic selling terbesar sejak Maret 2020, dengan pemicu yang jauh berbeda: bukan virus, melainkan ancaman dari lembaga pemeringkat global.

Ancaman yang Lebih Menakutkan dari Sekadar Jatuhnya Harga

Konten kreator ternama Raymond Chin, yang kerap membahas isu keuangan dan bisnis, mengangkat kegentingan situasi ini dalam video di kanal YouTube-nya pada 2 Februari 2026. Menurutnya, cerita di balik jatuhnya IHSG jauh lebih besar dan akan berdampak luas, bahkan bagi mereka yang bukan investor saham. Inti masalahnya terletak pada ancaman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), semacam "panduan Michelin" untuk investasi global, yang mengancam menurunkan status Indonesia dari "Emerging Market" ke "Frontier Market".

Raymond Chin dengan tegas menyanggah narasi pengunduran diri itu sebagai bentuk tanggung jawab moral. "Menurut gua bullshit lah," ujarnya. Ia meyakini ada paksaan di baliknya. "Menurut keyakinan saya, mereka mundur karena dipaksa. Karena ada yang nodong pistol ke kepala pasar modal kita."

Mengapa Ancaman MSCI Sangat Menakutkan?

Di sisi lain, bagi yang awam, degradasi kasta ini bukan soal gengsi semata. Ini soal uang dalam jumlah fantastis. MSCI menjadi patokan bagi dana-dana investasi pasif (passive fund) raksasa global. Dana ini beroperasi layaknya robot: mereka wajib membeli saham di negara yang tercantum dalam indeks Emerging Market MSCI, dan wajib menjualnya jika negara itu dicoret.

"Kalau sebuah negara ada di emerging market index, robot ini wajib beli saham di negara itu sesuai dengan bobotnya. Kalau negara itu dicoret dari list itu, robotnya wajib jual. Dan ini enggak bisa dinego," jelas Chin.

Estimasi kasar Chin, capital outflow yang bisa terjadi mencapai 30 hingga 50 miliar dolar AS. Imbasnya bisa sangat parah: IHSG berpotensi anjlok ke level 5.000-6.000, Rupiah melemah hingga Rp20.000 per dolar AS, dan likuiditas pasar mengering. Saham blue chip sekelas BCA atau BRI pun bisa ikut terpukul karena dijual murah dalam kepanikan.

Akar Masalah: Manipulasi "Free Float" yang Menjadi Kanker

Lalu, apa yang membuat MSCI marah? Jawabannya, menurut Chin, cuma satu kata: manipulasi. Lebih spesifik, manipulasi data free float atau saham yang benar-benar beredar di publik. Ia menganalogikannya seperti restoran dengan 10 kursi yang dijanjikan untuk pelanggan, tapi delapan di antaranya selalu diisi oleh karyawan yang pura-pura jadi pelanggan. Tampak ramai, tapi sepi transaksi nyata.

Di Indonesia, banyak saham yang secara laporan dimiliki publik, namun sebenarnya dipegang oleh "tangan-tangan hantu" milik pemilik perusahaan. Saham-saham itu digadaikan atau dikunci agar harganya tidak jatuh. Akibatnya, pasar kehilangan likuiditas sejati. "Buat investor global ini tuh dosa besar. Penipuan struktural," tegasnya.

Padahal, MSCI sudah memberi peringatan keras sejak pertengahan 2025 untuk membenahi data dan membersihkan saham gorengan. Namun, respons regulator saat itu dinilai mengelak. "Mereka bilang, 'Oh, enggak kok pasar kita kondusif'," ungkap Chin menirukan.

Dosa-Dosa yang Menumpuk Bertahun-Tahun

Namun begitu, masalah ini bukan muncul tiba-tiba. Menurut analisis Chin, ada beberapa dosa yang menumpuk. Pertama, obsesi kuantitas di atas kualitas, seperti target IPO 1000 emiten yang membuat proses penyaringan jebol. Kedua, kebijakan yang membingungkan dan sering berubah-ubah, seperti aturan papan pemantauan khusus dan blind order, yang justru membuat investor asing kapok.

"Rule of the game di Indonesia itu berubah-berubah dan seringkali enggak masuk akal buat standar global," lanjutnya. Sementara pasar India melesat karena tata kelola yang kuat, Indonesia stagnan karena isu kepercayaan. "Sekali dicap sebagai pasar yang bisa diatur bandar, duit pintar itu bakal cabut."

Mundur Massal sebagai "Tumbal" dan Jalan Panjang Pemulihan

Pengunduran diri massal itu, dalam keyakinan Chin, adalah strategi "corporate harakiri". Pemerintah butuh tumbal untuk menunjukkan keseriusan kepada MSCI. "Kita pengin nunjukin nih, lihat kita serius, kita penggal pimpinan kita sendiri. Jadi, tolonglah kasih kita kesempatan kedua," katanya menafsirkan pesan diplomatik tersebut.

Apakah masalah selesai dengan mundurnya mereka? Tentu tidak. "Ganti orang tuh gampang. Ganti culture yang susah," ucap Chin. PR untuk pengganti mereka sangat berat: membongkar data kepemilikan saham yang asli, menindak tegas emiten dengan free float palsu, dan yang paling sulit, memulihkan kepercayaan investor asing.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Menurut Chin, beberapa bulan ke depan akan sangat volatil. Untuk investor yang hati-hati, memegang cash dan mengurangi eksposur adalah pilihan bijak. Bagi yang agresif, volatilitas bisa jadi peluang, namun harus ekstra hati-hati. Saran terpentingnya adalah kembali ke fundamental.

"Coba balik lagi belajar fundamental. Benar-benar lihat perusahaan-perusahaan yang benar untung, yang beneran bagi dividen, yang beneran transparan," tuturnya. Ia menyarankan untuk menjauhi saham gorengan dan fokus pada emiten berkualitas seperti BCA atau Telkom, yang bisnisnya akan tetap berjalan meski harganya dibanting.

Meski pahit, Chin berharap momen ini menjadi proses bersih-bersih yang diperlukan. "Emang sakit, emang berdarah. Tapi semoga ini darah kotor yang keluar biar badan kita sehat lagi."

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags