Hilal Ramadan 2026 Diprediksi Baru Terlihat 18 Februari

- Selasa, 03 Februari 2026 | 11:05 WIB
Hilal Ramadan 2026 Diprediksi Baru Terlihat 18 Februari

Tanggal 17 Februari mendatang, sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah akan digelar oleh Kementerian Agama. Nah, pertanyaan besarnya, bagaimana kondisi hilal saat itu? Bisakah ia teramati?

Jawabannya bisa kita telusuri dari dokumen prakiraan hilal yang dirilis BMKG. Menurut badan meteorologi itu, konjungsi atau ijtima' saat posisi bulan dan matahari sejajar jika diamati dari pusat bumi akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, tepatnya pukul 19.01 WIB.

"Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima' adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi,"

Begitu penjelasan BMKG dalam dokumen yang dirilis Selasa lalu.

Nah, karena momen ijtima' ini terjadi setelah matahari terbenam tanggal 17, maka implikasinya jadi jelas. Bagi yang menggunakan metode rukyat (pengamatan langsung), hilal baru akan dicari pada sore hari berikutnya, yaitu 18 Februari. Sementara untuk pihak yang mengandalkan hisab (perhitungan), kriteria perhitungan pun akan diterapkan pada tanggal 18 itu juga.

Lalu, bagaimana dengan angka-angkanya?

Pada 17 Februari, prediksinya kurang menggembirakan. Ketinggian hilal di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk, berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat. Artinya, mustahil terlihat.

Namun begitu, situasi berubah drastis keesokan harinya. Pada 18 Februari, peta BMKG menunjukkan ketinggian hilal sudah positif, mulai dari 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang. Peluang untuk dilihat jauh lebih besar.

BMKG juga menyertakan data elongasi, yaitu jarak sudut antara bulan dan matahari. Pada 17 Februari, elongasi masih sangat kecil, antara 0,94 hingga 1,89 derajat. Besoknya, angka itu melonjak signifikan menjadi antara 10,7 hingga 12,21 derajat. Jarak yang lebih lebar ini biasanya membuat hilal lebih mudah dibedakan dari cahaya senja.

Jadi, secara astronomis, semua mata tertuju pada sore hari tanggal 18 Februari nanti. Sidang isbat pun akan punya data yang cukup jelas untuk memutuskan kapan puasa Ramadan benar-benar dimulai.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar