Lalu, bagaimana dengan angka-angkanya?
Pada 17 Februari, prediksinya kurang menggembirakan. Ketinggian hilal di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk, berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat. Artinya, mustahil terlihat.
Namun begitu, situasi berubah drastis keesokan harinya. Pada 18 Februari, peta BMKG menunjukkan ketinggian hilal sudah positif, mulai dari 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang. Peluang untuk dilihat jauh lebih besar.
BMKG juga menyertakan data elongasi, yaitu jarak sudut antara bulan dan matahari. Pada 17 Februari, elongasi masih sangat kecil, antara 0,94 hingga 1,89 derajat. Besoknya, angka itu melonjak signifikan menjadi antara 10,7 hingga 12,21 derajat. Jarak yang lebih lebar ini biasanya membuat hilal lebih mudah dibedakan dari cahaya senja.
Jadi, secara astronomis, semua mata tertuju pada sore hari tanggal 18 Februari nanti. Sidang isbat pun akan punya data yang cukup jelas untuk memutuskan kapan puasa Ramadan benar-benar dimulai.
Artikel Terkait
Tragedi Ponorogo: Diduga Bunuh Ibu Kandung, Pemuda Kabur dan Hilang di Laut Gunung Kidul
Direktur BUMN Warga Asing Juga Wajib Lapor Harta ke KPK
Mantan Menteri Kehakiman China Divonis Seumur Hidup Atas Suap Rp 330 Miliar
Pendaftaran SNBP 2026 Dibuka, Siswa Berebut Kuota Lewat Jalur Prestasi