Genangan air yang menggenangi Jalan Daan Mogot, khususnya di sekitar KM 13, sepertinya punya cerita sendiri. Setiap hujan turun, kawasan itu nyaris pasti kebanjiran. Nah, Pemprov DKI Jakarta punya target baru: menyelesaikan pembangunan Sistem Tata Air Pompa di lokasi itu pada 2027. Proyek yang sebenarnya sudah direncanakan sejak 2022 ini kembali digenjot.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini meninjau langsung lokasi proyek di Cengkareng. Menurutnya, masalah utamanya ada pada kontur tanah.
“Kenapa selalu banjir? Karena jalannya di bawah permukaan Sungai Mookervart. Jadi diapakan saja, kalau kemudian hujan, curah hujan enggak perlu sampai dengan 200, 100 saja tempat ini pasti sudah banjir,”
jelas Pramono. Intinya, posisi jalan yang lebih rendah dari sungai membuat genangan muncul bahkan saat hujan tidak terlalu lebat.
Sebagai langkah darurat, pemerintah akan memasang pompa stasioner di tiga titik: KM 13, 13A, dan 13B. Ini pengganti pompa mobile yang selama ini dianggap kurang maksimal.
“Kalau dulu di tempat ini hanya ada kurang lebih 1.000 liter per detik, dan itu pun mobile. Sekarang dengan pompa yang stasioner yang tetap akan ada di sini, kapasitasnya menjadi tujuh kali, kurang lebih 7.000 liter per detik,”
tambahnya. Peningkatan kapasitasnya signifikan, bukan?
Di sisi lain, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI, Ika Agustin Ningrum, membeberkan bahwa proyek ini adalah bagian dari penanganan terpadu. Fokusnya kini ada di Jakarta Barat dan Utara.
“Jadi memang seperti yang saya laporkan kepada Bapak, titik krusial banjir di Jakarta ini sekarang dua, Pak. Jakarta Utara dan di Jakarta Barat. Ini yang harus kita prioritaskan,”
kata Ika.
Memang, di sepanjang Daan Mogot ada lima titik rawan. Yang paling parah ya KM 13 itu. Rencananya, akan dibangun rumah pompa permanen dengan kapasitas gabungan sekitar 11,5 meter kubik per detik, menampung air dari daerah Kedaung Angke dan Cengkareng Timur.
Namun begitu, jalan menuju 2027 tidak mulus. Ika mengakui proyek sempat mandek. Awalnya, pengerjaan saluran crossing jalan sudah dimulai dua tahun lalu.
“Mohon maaf Pak Gubernur, memang penyedianya kurang qualified Pak, sehingga kami blacklist di tahun 2022,”
ungkapnya. Jadi, ada masalah dengan penyedia jasa sebelumnya.
Kini, pekerjaan akan dilanjutkan dengan membangun crossing jalan, pintu air, rumah pompa, hingga genset. Tapi tenggat waktunya cukup panjang, hingga Desember 2027. Selain karena kompleksitas pekerjaan, ada kendala teknis seperti jaringan SUTET di sekitar lokasi yang harus diakali.
Pramono sendiri merasa punya tanggung jawab moral menyelesaikan proyek yang terbengkalai ini.
“Jadi proyek ini mungkin memang sudah menjadi tugas saya untuk menyelesaikan yang enggak selesai-selesai, termasuk di tempat ini dari tahun 2022. Mudah-mudahan tahun 2027 selesai secara keseluruhan mengatasi banjir,”
tegasnya.
Sebagai catatan akhir, selain mengandalkan pompa, ada wacana lain yang mengambang. Untuk solusi jangka panjang, Pramono menyebut kemungkinan pembangunan flyover. Tujuannya ganda: mengurai banjir sekaligus mengatasi kemacetan parah di kawasan tersebut.
“Kalau mau jangka panjang, saya akan suruh ngitung untuk dibuatkan flyover-nya,”
pungkas Gubernur. Jadi, masih ada rencana lain yang menunggu untuk dikerjakan setelah pompa-pompa itu berdiri.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Suami di Mojokerto yang Aniaya Istri dan Mertua hingga Tewas, Pelaku Ditangkap di Surabaya
Anies Baswedan: Guru yang Beri Inspirasi dan Nilai Tak Tergantikan oleh AI
Pemkot Brebes Ancam Pecat ASN yang Bolos 12 Hari Tanpa Keterangan
PTDI Klaim Pesawat N-219 Solusi Tepat untuk Konektivitas Daerah Terpencil dan Kepulauan