Misteri Masa Lalu Kiai Sadrach: Benarkah Ia Pernah Nyantri?

- Selasa, 03 Februari 2026 | 08:00 WIB
Misteri Masa Lalu Kiai Sadrach: Benarkah Ia Pernah Nyantri?

Benarkah Sadrach Nyantri?
(Menelusur Jejak Penginjil Jawa)

✍🏻 Arif Wibowo

Dalam narasi kristenisasi di Jawa, nama Kiai Sadrach (1835–1924) punya tempat yang unik. Ia bukan cuma dikenal karena berhasil menarik banyak orang Jawa masuk Kristen, tapi juga karena latar belakang pendidikannya yang kerap dikaitkan dengan dunia pesantren. Hal inilah yang membuat sosoknya selalu menarik untuk dikulik.

Nah, ketika orang membaca judul buku Guillot, Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa, reaksi pertama yang muncul seringkali: “Lho, ternyata ada juga ya kiai pesantren yang murtad.” Meski belakangan, pandangan soal gelar ‘kiai’ itu sendiri sudah mulai bergeser. Gelar itu tak melulu melekat pada pengasuh pesantren, tapi lebih sebagai bentuk penghormatan.

Tapi, benarkah Sadrach pernah nyantri? Kalau kita telusuri dari beberapa literatur utama tentang dirinya seperti buku Guillot tadi, disertasi Pendeta Soetarman Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya, atau karya Lidya Herwanto Partonadi dan Kiai Sadrach, Gerakan Jemaat Kristen Merdeka justru titik inilah yang paling buram. Riwayat kepesantrenannya terasa kabur, bahkan bisa dibilang penuh teka-teki.

Di buku-buku itu, Sadrach muda digambarkan sebagai pemuda yang tekun belajar Islam, seorang santri kelana yang mondok dari satu pondok ke pondok lain. Ada yang menyebut ia pernah nyantri di Pesantren Gontor. Ini agak aneh, sebab Gontor baru berdiri tahun 1926, sementara Sadrach sudah dewasa bahkan sepuh pada masa itu. Jadi, jelas itu informasi yang meleset jauh.

Yang lebih jelas tercatat justru pendidikan spiritualnya yang lain. Radin nama Sadrach di masa muda pernah berguru pada seorang ahli ngelmu peguron bernama Pak Kurmen atau Sis Kanoman. Ngelmu peguron ini semacam ilmu kanuragan, ilmu kekebalan yang lagi ngetren di kalangan pemuda kala itu. Setelah itu, barulah ia dikisahkan melanjutkan perjalanan ke Jombang untuk “menimba ilmu pesantren”.

Di sinilah masalahnya. Pada fase yang dianggap paling krusial inilah, data justru menghilang. Tak ada catatan yang gamblang, pesantren mana yang ia singgahi dan siapa kiai yang menjadi gurunya. Penyebutan nama-nama seperti Tebuireng atau Gontor jelas melenceng secara waktu. Jadi, klaim bahwa ia ‘mantan santri’ seolah menggantung tanpa pondasi yang kuat.


Halaman:

Komentar