Bagi banyak orang, pergi ke profesional untuk urusan kesehatan mental masih jadi hal yang tabu. Tapi tidak bagi Audi bukan nama sebenarnya. Setelah bertahun-tahun bergumul dengan pikirannya sendiri, dia justru memilih untuk melangkah. Ia memutuskan mencari bantuan.
“Yang saya rasakan itu ketidakinginan untuk hidup. Itu yang terus berlanjut,” cerita Audi suatu hari di akhir November. Perasaan itu, katanya, sudah mengendap lama dan merembes ke keseharian. “Jadi saya jadi gampang murung, gampang irritated sama hal-hal kecil.”
“I know kalau itu bukan sesuatu yang wajar dan benar gitu. Jadi akhirnya memutuskan sepertinya memang butuh bantuan profesional,” tambahnya.
Namun begitu, keputusan itu tak mudah. Bukan stigma yang menghalangi, melainkan soal biaya. Saat itu Audi masih berstatus pelajar, lalu mahasiswa. Ia pun memilih untuk merahasiakannya dari orang tua.
Dengan bantuan diskusi panjang bersama teman-teman dekat, akhirnya Audi menemukan layanan yang cocok dan terjangkau. Mulai 2022, ia mencoba konsultasi online dengan psikolog. Setahun kemudian, beralih ke psikiater secara daring juga.
Tapi, konsultasi online rupanya belum sepenuhnya memuaskan baginya. Apalagi Audi merasa butuh penanganan medis berupa obat. Maka, di tahun 2024 ini, ia memberanikan diri untuk bertemu langsung dengan psikiater secara tatap muka.
“Saya akui saya bisa merasakan perbedaannya,” sambungnya. “Psikolog itu lebih ke sesi konseling dan ngobrol. Kalau psikiater ya juga sama, tapi dibarengi dengan bantuan obat. Dan saya rasa pada saat itu saya sudah di tahap memang butuhkan obat.”
Efeknya cukup terasa. Setelah minum obat, kondisi Audi jauh lebih baik. Hanya saja, ia mengaku masih kurang konsisten dalam berkonsultasi. Alhasil, perasaan-perasaan lama itu kadang masih kembali. Sampai sekarang, ia masih rutin konsultasi online dengan psikolog.
Soal biaya, Audi mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu per sesi untuk konsultasi daring. Sementara untuk tatap muka dengan psikiater, semuanya gratis termasuk obat karena ia menggunakan BPJS Kesehatan.
Fasilitas Kesehatan Mental: 93,22% Ada di Kota
Cerita Audi menunjukkan bahwa akses terhadap layanan kesehatan mental baik online maupun offline memang mungkin. Tapi, tidak semua orang seberuntung itu.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis akhir Juni 2025 mengungkap sebuah ketimpangan. Judulnya CERDAS untuk Indonesia: Potret Masalah Perilaku dan Emosional di Indonesia. Isinya menyoroti kesenjangan layanan kesehatan mental antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Tak cuma itu. Ketimpangan juga sangat mencolok antara kota dan desa. Menurut data BPS, 93,22 persen fasilitas kesehatan mental ternyata terkonsentrasi di perkotaan. Hanya 6,78 persen yang berada di pedesaan.
“Kondisi ini diperparah oleh beban biaya dan jarak yang harus ditempuh pasien desa ke rumah sakit. Dengan demikian, ketimpangan pelayanan menambah ranah depresi, bunuh diri, dan stres berat yang mungkin terjadi di wilayah terpencil,” tulis BPS dalam laporannya.
Rata-rata Biaya Konsultasi: Rp 518 Ribu per Jam
Lalu, berapa sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan? Sebuah penelusuran dilakukan terhadap fasilitas kesehatan mental di wilayah Jabodetabek. Dengan menggunakan kode pemrograman dan API Google Maps, terkumpul data 477 lokasi layanan mulai dari konseling, rumah sakit jiwa, hingga rumah sakit umum yang menyediakan layanan serupa.
Jakarta Selatan menempati urutan terbanyak dengan 59 fasilitas, disusul Depok (52), Jakarta Timur (46), dan Kota Bekasi (45).
Dari jumlah itu, diambil sampel acak 23 fasilitas yang mempublikasikan harga. Hasilnya? Rata-rata biaya konseling individu per jamnya mencapai Rp 518 ribu.
Yang termahal dipatok Rp 915 ribu per jam, yaitu praktik seorang psikiater di rumah sakit swasta. Sementara yang paling murah ada di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, dengan tarif mulai dari Rp 100 ribu per jam.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali