Janur Palmerah: Kisah di Balik Simbol Cinta yang Tak Pernah Tidur

- Senin, 02 Februari 2026 | 16:00 WIB
Janur Palmerah: Kisah di Balik Simbol Cinta yang Tak Pernah Tidur

Produknya terbatas: janur, penjor, dan ketupat. Harganya sudah paten. Satu ikat ketupat (isi 100) Rp 50 ribu. Satu ikat janur Rp 15 ribu. Untuk penjor, dihitung per lembar.

“Itu habis 100 lembar, jadinya 150 ribu,” katanya.

Penjualan penjor benar-benar tergantung pesanan hajatan. “Nggak bisa ditentuin, tergantung pesanan aja, nunggu ada yang nikah atau hajatan itu. Tapi selalu ada aja yang beli.”

Tak jauh dari situ, Pulung (50) juga menjalani usaha serupa. Menurutnya, selain Palmerah, Kebayoran juga jadi titik penting bagi pedagang janur di Jakarta.

“Di Kebayoran ada,” katanya.

Aktivitas jual beli di sini berlangsung tanpa henti. Tapi suasana berubah saat Ramadan tiba.

“Siang malem, 24 jam,” ujar Pulung. “Kalau bulan puasa nggak ada yang bikin penjor, adanya bikin ketupat. Lebih banyak yang pesen ketupat deket Lebaran.”

Pulung punya jadwal khusus merangkai penjor: setiap Kamis. Sebab, pesta biasanya ramai dari Jumat sampai akhir pekan.

“Setiap hari Kamis. Karena orang pesta itu ramenya di Jumat sampai malam Minggu.”

Meski baru di Palmerah, dia bukan pemula. Sebelumnya, Pulung sudah berjualan di Kebayoran selama dua dekade.

“Saya baru di sini, tapi sebelumnya di Kebayoran udah 20 tahunan.”

Bahan bakunya juga dari Banten, tepatnya Rangkasbitung dekat Pandeglang. Penjor yang sudah dirangkai punya masa kadaluarsa. Kalau tiga hari tak laku, terpaksa dibuang.

“Tiga hari. Kalau nggak laku itu dikumpulin, abis itu dibuang.”

Fungsinya sederhana, kata Pulung. Cuma penanda ada hajatan. Tapi di balik kesederhanaan itu, ia jadi simbol awal sebuah perayaan yang sarat makna.

Di Palmerah, janur-janur itu terus digantung. Menjadi saksi bisu hajatan dan lambang cinta, dijaga siang malam oleh tangan-tangan pengrajin yang setia menunggu pesanan datang.


Halaman:

Komentar