Pertemuan 4 Jam Said Didu dengan Presiden Prabowo: Dari Isu Sensitif Hingga Sikap Oposisi
Pertemuan itu berlangsung hampir empat jam. Cukup lama, dan intens. Muhammad Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, baru-baru ini membuka catatannya tentang pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2026 lalu. Menurutnya, percakapan mereka menyentuh banyak hal, mulai dari isu strategis hingga topik-topik yang biasanya dianggap sensitif.
Jadwalnya dimulai sore hari, sekitar pukul lima. Baru berakhir mendekati pukul sembilan malam. Prabowo datang dengan sekitar sepuluh staf kepercayaannya. Namun yang menarik, presentasi tentang agenda dan kebijakan strategis pemerintah disampaikan langsung oleh sang Presiden sendiri.
“Bapak Presiden mempresentasikan sendiri berbagai kebijakan strategis untuk percepatan perbaikan bangsa,”
kata Said Didu, Senin (2/2/2026).
Suasana diskusi digambarkannya sangat dinamis. Terbuka. Prabowo disebut aktif mendengarkan, merespons, dan berdiskusi tanpa ada sekat formal yang kaku. Semua peserta, menurut Didu, diberi ruang untuk menyampaikan pandangan. Bahkan untuk hal-hal yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.
Dari obrolan panjang itu, muncul satu kesepakatan penting. Agenda untuk mengembalikan kedaulatan negara dan rakyat harus jadi prioritas utama. Poin ini mencakup hal-hal seperti pemberantasan korupsi dan pengelolaan ulang sumber daya alam agar benar-benar untuk kepentingan nasional.
Tak cuma soal domestik. Pembicaraan juga melebar ke isu-isu lain. Reformasi Polri, misalnya. Lalu ada juga bahasan tentang Board of Peace (BoP) dan konflik Gaza yang masih memanas. Bagi Said Didu, ini adalah tanda bahwa Prabowo terbuka mendiskusikan persoalan besar, baik di dalam maupun luar negeri.
“Ini menunjukkan bahwa Bapak Presiden sangat terbuka untuk berdiskusi, bahkan terhadap isu-isu strategis dan sensitif,”
tegasnya.
Namun begitu, ada satu pernyataan politik yang cukup mencolok dari Said Didu pascapertemuan. Ia menyatakan sikapnya akan beroposisi. Tapi bukan terhadap pemerintah. Oposisinya ditujukan kepada kelompok-kelompok yang dianggapnya menghalangi agenda pengembalian kedaulatan di berbagai bidang politik, ekonomi, hukum, sumber daya alam, dan wilayah yang katanya telah direbut oleh oligarki.
“Kami akan beroposisi kepada pihak-pihak yang menghalangi agenda pengembalian kedaulatan negara dan rakyat,”
jelasnya.
Di akhir perbincangan, Said Didu menyampaikan apresiasi. Ia berterima kasih atas kesediaan Presiden Prabowo untuk menerima dan berdialog secara terbuka.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo atas penerimaannya dan kesediaannya berdiskusi dengan kami,”
tutupnya.
Artikel Terkait
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Manfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain
Polda NTT Bongkar 27 Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi, Negara Rugi Rp10,16 Miliar
Pakar: Langkah Prabowo Pertahankan Polri di Bawah Presiden Tepat Secara Politik dan Hukum
Bocah 11 Tahun di Cianjur Ditemukan Tenggelam di Sungai Setelah Dua Hari Hilang, Teman Akhirnya Buka Suara