Natal Bersama dan Fikiran Zionis Nasaruddin
Nasaruddin Umar lagi-lagi bikin ulah. Kali ini, sang Menteri Agama dengan bangga menggelar agenda "Natal Bersama" di kantornya sendiri. Bagi yang mengikuti sepak terjangnya, sikap ini bukan hal baru. Tokoh yang pernah mencium kening Paus dan punya kedekatan dengan organisasi pro-Zionis Israel ini memang dikenal nekat. Kontroversi sepertinya jadi menu harian.
Relasi antar agama dalam pandangannya terasa begitu bebas. Bahkan, menurut sejumlah pengamat, kerukunan yang ia usung lebih mirip campur aduk sinkretis, kalau memakai istilah yang lebih tegas.
Di sisi lain, kerukunan sejati itu bukan dibangun dari narasi "bersama" yang dipaksakan. Bukan natal bersama, idul fitri bersama, atau shabbat bersama. Itu namanya kufur bersama. Kerukunan yang hakiki justru lahir dari saling menghormati perbedaan, termasuk dalam hal peribadatan masing-masing. Itu baru paradigma Pancasila yang sesungguhnya.
Presiden rasanya perlu meninjau ulang posisi menteri yang satu ini. Bukannya membangun, langkah-langkahnya justru berpotensi membahayakan tatanan yang sudah ada.
Latar belakang pendidikan Nasaruddin mungkin bisa menjelaskan kecenderungannya. Alumni UIN Makassar dan doktoral UIN Jakarta ini pernah melakukan studi singkat di McGill Kanada dan Leiden Belanda. Gaya berpikirnya terlihat liberal. Bahkan, ia pernah belajar di Amerika atas undangan American Jewish Committee (AJC), organisasi yang dikenal dekat dengan kepentingan Zionis.
Artikel Terkait
Sampah Roti Ternama Berakhir di Pinggir Jalan Gelap Gianyar
Istana Tahan Keputusan, Thomas Djiwandono Tetap di Wamenkeu untuk Sementara
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Tahuna, Pusatnya Hanya 10 Kilometer
Ketua Komisi III Geram: Korban Penjambret Dijerat Hukum, Keluarga Pelaku Malah Minta Uang Kerahiman