Natal Bersama di Kemenag: Langkah Kontroversial Nasaruddin Umar yang Kembali Picu Sorotan

- Rabu, 10 Desember 2025 | 09:50 WIB
Natal Bersama di Kemenag: Langkah Kontroversial Nasaruddin Umar yang Kembali Picu Sorotan
Opini

Natal Bersama dan Fikiran Zionis Nasaruddin

Oleh: M Rizal Fadillah

Nasaruddin Umar lagi-lagi bikin ulah. Kali ini, sang Menteri Agama dengan bangga menggelar agenda "Natal Bersama" di kantornya sendiri. Bagi yang mengikuti sepak terjangnya, sikap ini bukan hal baru. Tokoh yang pernah mencium kening Paus dan punya kedekatan dengan organisasi pro-Zionis Israel ini memang dikenal nekat. Kontroversi sepertinya jadi menu harian.

Relasi antar agama dalam pandangannya terasa begitu bebas. Bahkan, menurut sejumlah pengamat, kerukunan yang ia usung lebih mirip campur aduk sinkretis, kalau memakai istilah yang lebih tegas.

Di sisi lain, kerukunan sejati itu bukan dibangun dari narasi "bersama" yang dipaksakan. Bukan natal bersama, idul fitri bersama, atau shabbat bersama. Itu namanya kufur bersama. Kerukunan yang hakiki justru lahir dari saling menghormati perbedaan, termasuk dalam hal peribadatan masing-masing. Itu baru paradigma Pancasila yang sesungguhnya.

Presiden rasanya perlu meninjau ulang posisi menteri yang satu ini. Bukannya membangun, langkah-langkahnya justru berpotensi membahayakan tatanan yang sudah ada.

Latar belakang pendidikan Nasaruddin mungkin bisa menjelaskan kecenderungannya. Alumni UIN Makassar dan doktoral UIN Jakarta ini pernah melakukan studi singkat di McGill Kanada dan Leiden Belanda. Gaya berpikirnya terlihat liberal. Bahkan, ia pernah belajar di Amerika atas undangan American Jewish Committee (AJC), organisasi yang dikenal dekat dengan kepentingan Zionis.

Kedekatan itu sempat ia coba bawa pulang. Ia mengundang Direktur AJC, Ari Gordon, untuk berbicara dalam sebuah seminar di Masjid Istiqlal. Tapi rencana itu akhirnya gagal. Protes keras dari berbagai pihak memaksa tokoh pro-Israel itu membatalkan kehadirannya.

Nah, rencana Natal Bersama di Kementerian Agama ini pun terasa mengada-ada. Reaksi pun datang, terutama dari umat Islam yang mengingat firman Allah dalam Surat Al Kafirun. Intinya jelas: "Bagimu agamamu, bagiku agamaku." Mencampuradukkan ibadah adalah pelanggaran. Dan konsekuensinya, menurut keyakinan, tidak main-main.

Para ulama dan kyai, sebagai penjaga agama, sudah seharusnya mengawal umat. Jangan sampai akidah rusak karena ulah oknum pejabat. Meski acara cuma di internal kementerian, tapi Kementerian Agama kan bukan dibangun untuk mewadahi pandangan sinkretis ala Nasaruddin Umar. Ini bahaya. Bentuk perlawanan terhadap pemurtadan sistematis harus dilakukan.

Di tengah rentetan bencana yang melanda negeri ini yang bisa jadi adalah peringatan para pemimpin semestinya introspeksi. Merusak alam saja akibatnya dahsyat, apalagi merusak iman dan keyakinan. Nasaruddin Umar, dengan tindakannya, seolah menempatkan diri sebagai musuh umat. Kita harus waspada terhadap skenario toleransi palsu yang justru menghancurkan.

Kalau agenda Natal Bersama ini tetap dipaksakan, maka tidak ada pilihan lain. Desakan agar Nasaruddin Umar dicopot dari jabatannya harus digaungkan. Indonesia tidak layak punya menteri agama yang dalam pandangan penulis mengajak umat ke jalan yang sesat. Apalagi yang bersahabat dengan pendukung Zionis Israel.

") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 10 Desember 2025

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar