Usia dua tahun, atau yang sering disebut fase toddler, memang masa yang unik. Tiba-tiba saja, si kecil yang dulu penurut mulai berubah. Barang-barang suka dilempar, gigitan kerap terjadi, dan berbagai aksi lain yang bikin orang tua kerap menghela napas.
Tapi jangan buru-buru stres. Kondisi ini sebenarnya wajar, kok. Fase terrible two itu memang cirinya begitu: emosi anak bisa meledak-ledak dan susah ditebak. Mereka sedang belajar jadi pribadi yang mandiri, namun belum punya kemampuan bahasa yang cukup untuk mengungkapkan isi hati. Alhasil, ya, semua keluar lewat tangisan atau amukan.
Di sinilah peran kita sebagai orang tua diuji. Kunci utamanya? Tetap tenang dan responsif. Kalau kamu merasa bingung harus mulai dari mana, beberapa ibu dari komunitas kumparanMOM punya cerita dan tips yang mungkin bisa menginspirasi.
Cerita dari Lapangan: Menghadapi Ledakan Emosi Si Kecil
Jujur saja, bagi banyak ibu, fase ini cukup menguras tenaga dan kesabaran. Hal-hal sepele bisa tiba-tiba jadi pemicu drama besar, terutama saat keinginan anak tidak terpenuhi.
Seperti yang dialami Dina Prameswari (32).
“Sebagai orang tua, ini (fase terrible two) cukup bikin capek mental karena kita harus ekstra sabar setiap hari,” tuturnya.
Dari pengalamannya, hal pertama yang harus dilakukan justru adalah menenangkan diri sendiri. Kalau orang tua ikut terbawa emosi, situasi malah bisa runyam. Dina biasanya berusaha sejajar dengan anak, mengajaknya bicara pelan, dan memberi pelukan jika si kecil mau. Penjelasan baru diberikan setelah emosi mereda.
“Setelah anak lebih tenang, baru aku jelasin pelan-pelan tanpa nada marah,” sarannya.
Pendapat serupa datang dari Rani Oktaviani (35). Baginya, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi. Di tengah kelelahan fisik dan mental, kita dituntut untuk tetap stabil menghadapi berbagai situasi.
Strategi Rani sederhana: beri waktu dan ruang bagi anak untuk meluapkan emosinya dulu. Setelah reda, barulah ajak bicara.
“Menurut aku, anak perlu merasa aman dulu sebelum dikasih arahan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan untuk tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Logika anak dua tahun tentu berbeda dengan orang dewasa. Yang paling penting adalah pendampingan yang konsisten dan penuh kasih.
Ada lagi tips dari Siti Nurhaliza (29). Saat tanda-tanda tantrum muncul, ia kerap mengalihkan perhatian anak ke hal yang disukainya. Bisa dengan mengajak main, menyanyi bersama, atau aktivitas ringan lain yang bisa memperbaiki mood.
Memang, fase ini bisa sangat melelahkan. Tapi justru di masa-masa inilah anak paling membutuhkan ketenangan dan kestabilan dari orang tuanya untuk belajar mengendalikan emosi.
Dan seperti diingatkan Mom Siti, fase terrible two ini tidak akan berlangsung selamanya.
“Nggak selamanya anak bakal tantrum terus. Jadi jangan terlalu keras sama anak, dan juga jangan terlalu keras sama diri sendiri sebagai orang tua,” jelasnya.
Bagaimanapun, ini adalah fase belajar baik bagi si kecil maupun bagi kita.
Artikel Terkait
Puasa Ayyamul Bidh Jatuh pada Jumat, Begini Hukumnya
Cuaca Panas dan Polusi Melemahkan Sistem Imun, Masyarakat Diimbau Lebih Waspada
Kris Dayanti Pukau Penonton di Womens Inspiration Awards 2026 dengan Pesan Pemberdayaan Perempuan
Andre Taulany Buka Suara soal Kasus Dugaan Penganiayaan Mantan Istri, Pilih Tak Banyak Komentar