Di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin lalu, suasana konferensi pers terasa cukup optimis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja menggelar pertemuan penting dengan perwakilan MSCI, lembaga penyedia indeks global ternama. Pertemuan ini, yang juga dihadiri BEI, KSEI, dan Danareksa, intinya membahas langkah konkret meningkatkan transparansi pasar modal kita.
Hasan Fawzi, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, tampil menjelaskan. Ia menyebut diskusi berjalan konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi yang sedang digenjot.
"Terkait pengungkapan kepemilikan saham di bawah 5 persen, kita berkomitmen bisa melakukannya. Bahkan untuk kepemilikan di atas 1 persen saja," ujar Hasan.
Ini merupakan tindak lanjut dari temuan MSCI sebelumnya. Intinya, OJK siap membuka data kepemilikan investor yang menguasai lebih dari 1% saham perusahaan terbuka. Sebuah langkah yang dinanti untuk menjawab isu transparansi.
Tak cuma itu, ada rencana lain yang sedang disiapkan. OJK akan mendorong perincian data investor yang lebih granular. Selama ini, klasifikasi investor di KSEI hanya mencakup sembilan tipe utama. Nantinya, akan dikembangkan menjadi 27 sub-tipe.
"Dengan perincian tersebut, klarifikasi dan kredibilitas data kepemilikan saham akan semakin kuat," tambah Hasan.
Di sisi lain, soal likuiditas pasar juga tak luput dari perhatian. OJK menyampaikan wacana menaikkan minimum free float saham. Angkanya bakal naik dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Namun begitu, kebijakan ini tak akan diterapkan sekaligus. Akan ada proses bertahap dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, tentu saja.
Menariknya, MSCI sendiri dikatakan bersedia memberikan panduan teknis. Panduan itu menyangkut metodologi dan perhitungan yang mereka gunakan dalam evaluasi indeks. Bagi OJK, ini sinyal yang baik. Mereka berharap seluruh langkah tadi bisa berdampak positif pada evaluasi MSCI mendatang. Pada akhirnya, tujuannya jelas: memperkuat kepercayaan investor, baik domestik maupun global, terhadap pasar modal Indonesia.
Sebagai penutup, Hasan Fawzi menegaskan komitmen transparansi OJK.
"OJK akan melakukan pembahasan lanjutan di tingkat teknis dan secara berkala menyampaikan perkembangan kepada publik," pungkasnya.
Pertemuan ini, meski teknis, memberi sinyal bahwa otoritas serius merespon masukan dari dunia internasional. Langkah-langkahnya masih perlu dilihat eksekusinya, tapi setidaknya arahnya mulai terlihat.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020