Menyapu saat Imlek bawa sial? Pertanyaan itu selalu muncul tiap tahun, termasuk jelang Imlek 2026 nanti. Masyarakat Tionghoa akan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari mendatang. Nah, seiring momen itu mendekat, berbagai mitos dan pantangan pun ramai lagi dibicarakan. Salah satunya ya larangan untuk menyapu rumah di hari raya.
Banyak orang masih percaya, aktivitas itu bisa mengusir rezeki dan undang kesialan di awal tahun. Tapi, apa iya anggapan ini punya dasar kuat dalam tradisi? Atau cuma sekadar mitos yang telanjur melekat?
Dari Mana Asal Larangan Menyapu Saat Imlek?
Sebelum bahas larangannya, kita lihat dulu makna Imlek. Kata "Imlek" sendiri berasal dari bahasa Hokkian: "im" artinya bulan, dan "lek" berarti penanggalan. Jadi, perayaan ini dasarnya adalah tradisi budaya yang mengikuti kalender lunar, bukan semata ritual agama.
Ketua Umum Niciren Syosyu Indonesia (NSI), Suhadi Sendjaja, menegaskan hal ini. Menurutnya, Imlek itu tradisi kebudayaan yang dirayakan lintas agama. Semua orang keturunan Tionghoa atau yang menjalankan tradisi Tionghoa bisa merayakannya, terlepas dari keyakinan apa pun.
Nah, dalam praktiknya, Imlek identik dengan lampion merah, pakaian warna cerah, dan tarian barongsai yang riuh. Suasana sukacita itu diperkuat dengan alunan musik tradisional. Intinya, ini momen untuk bergembira bersama keluarga.
Di tengah kemeriahan itu, muncul berbagai pantangan. Salah satunya, jangan menyapu di hari pertama Imlek. Konon, tindakan itu bisa "menyapu" jauh keberuntungan yang seharusnya masuk. Tapi menurut Suhadi, pemahaman ini sebaiknya dilihat sebagai simbol, bukan larangan kaku.
Ia bilang, pantangan itu lebih bertujuan mendorong kita bersih-bersih sebelum hari raya tiba. Jadi, saat Imlek datang, rumah sudah bersih dan kita bisa fokus bersilaturahmi tanpa repot membereskan debu.
Lalu, Ini Mitos atau Fakta?
Suhadi bersikap cukup jelas. Keyakinan bahwa menyapu saat Imlek 2026 bakal mendatangkan malapetaka adalah pemahaman yang berlebihan. Bahkan, ia menyebutnya tidak proporsional.
Artikel Terkait
Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat
Es Gabus Viral: Antara Kekhawatiran dan Kekeliruan Aparat
21 Terdakwa Kerusuhan DPR Divonis Pengawasan, Bebas dari Jeruji
Welas Asih yang Sejati Lahir dari Tubuh yang Tenang, Bukan Paksaan Moral