"Kalau lantai kotor saat Imlek, ya silakan disapu. Tidak masalah," katanya, seperti dikutip sebuah media lokal beberapa waktu lalu. Menurutnya, anggapan yang menjurus ke takhayul justru menjauhkan kita dari esensi perayaan sebenarnya.
Larangan-larangan fisik semacam itu, tambahnya, tidak perlu dijadikan patokan utama. Selain kurang masuk akal, keyakinan berlebihan juga tidak memberi manfaat nyata bagi kehidupan sosial atau spiritual seseorang.
Lantas, apa yang pantang dilakukan saat Imlek? Suhadi menekankan satu hal: perbuatan jahat. Itulah pantangan sesungguhnya. Kejahatan, dalam bentuk apa pun, adalah hal yang mutlak harus dihindari, bukan sekadar urusan menyapu atau tidak.
Ia menegaskan, Imlek seharusnya jadi momentum untuk mengawali tahun dengan niat dan tindakan baik. Berbuat baik tentu tidak harus menunggu Imlek, tapi momen ini bisa jadi pengingat kolektif yang kuat bagi komunitas.
Makna yang Lebih Dalam
Lebih jauh, Suhadi menjelaskan bahwa inti perayaan Imlek 2026 bukan terletak pada pantangan fisik. Melainkan pada upaya membersihkan hati dan pikiran. Imlek adalah awal tahun untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
"Intinya, ketika kita menyambut Imlek ini, kita mengawali tahun dengan yang baik," ujarnya.
Nilai itu tercermin dalam tradisi kunjungan ke sanak saudara, saling mengucapkan doa, dan berbagi rezeki lewat angpao. Semua ritual itu punya tujuan mulia: mempererat ikatan dan membangun keharmonisan.
Jadi, kesimpulannya, larangan menyapu saat Imlek 2026 lebih tepat dipahami sebagai simbol budaya. Tujuannya mendorong persiapan yang baik sebelum hari raya, bukan menciptakan ketakutan akan kesialan. Esensi sebenarnya justru ada pada kebersihan batin dan niat kita.
Dengan memahami makna ini, perayaan Imlek bisa dijalani dengan lebih bijak. Penuh kegembiraan, dan tentu saja, sarat dengan nilai-nilai kebaikan yang universal.
Artikel Terkait
Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat
Es Gabus Viral: Antara Kekhawatiran dan Kekeliruan Aparat
21 Terdakwa Kerusuhan DPR Divonis Pengawasan, Bebas dari Jeruji
Welas Asih yang Sejati Lahir dari Tubuh yang Tenang, Bukan Paksaan Moral