Di sisi lain, ancaman lain juga mengintai. Sebuah tower SUTET 150 kilovolt tampak berdiri terancam. Posisinya kini cuma berjarak beberapa meter dari bibir longsoran yang terus meluas. Bayangkan jika sampai terganggu, dampaknya bisa lebih luas lagi.
Karena kompleksitas masalahnya, Haili berharap ada kolaborasi. Pemerintah provinsi dan pusat, menurutnya, harus turun langsung bersama pemkab untuk penanganan terpadu. Soalnya, dampaknya sudah jelas melampaui skala lokal.
Memang, efeknya sudah terasa. Selain ancaman fisik, konektivitas wilayah pun lumpuh. Aktivitas ekonomi warga setempat otomatis ikut tersendat. Pemerintah daerah sih masih terus memantau, tapi langkah konkret lebih lanjut masih ditunggu dari instansi terkait.
Lantas, apa penyebabnya? Ternyata, ini bukan fenomena tanah ambles tiba-tiba. Kajian ESDM Aceh menyebutnya sebagai pergerakan tanah lambat atau slow moving landslide. Material di lokasi itu didominasi endapan vulkanik jenis tanah yang gampang jenuh air dan memang tidak stabil.
Faktor pemicunya berlapis. Karakter tanah yang porous itu diperparah oleh curah hujan tinggi khas pegunungan, ditambah lereng yang curam. Retakan-retakan lama di tanah menjadi jalur sempurna bagi air hujan untuk menyusup dan memperlemah struktur. Hasil pengamatan lapangan bahkan menunjukkan bidang gelincirnya hampir tegak lurus. Sungguh kondisi yang mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
AVC Tetapkan Grup Champions Club Asia 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah dengan Dua Wakil
Simon Grayson Resmi Jadi Asisten Pelatih Timnas Indonesia
Raphinha Cetak Hattrick, Barcelona Hancurkan Sevilla 5-2
Manchester United Kalahkan Aston Villa 3-1, Raih Tiga Poin Krusial di Old Trafford