Di sisi lain, ancaman lain juga mengintai. Sebuah tower SUTET 150 kilovolt tampak berdiri terancam. Posisinya kini cuma berjarak beberapa meter dari bibir longsoran yang terus meluas. Bayangkan jika sampai terganggu, dampaknya bisa lebih luas lagi.
Karena kompleksitas masalahnya, Haili berharap ada kolaborasi. Pemerintah provinsi dan pusat, menurutnya, harus turun langsung bersama pemkab untuk penanganan terpadu. Soalnya, dampaknya sudah jelas melampaui skala lokal.
Memang, efeknya sudah terasa. Selain ancaman fisik, konektivitas wilayah pun lumpuh. Aktivitas ekonomi warga setempat otomatis ikut tersendat. Pemerintah daerah sih masih terus memantau, tapi langkah konkret lebih lanjut masih ditunggu dari instansi terkait.
Lantas, apa penyebabnya? Ternyata, ini bukan fenomena tanah ambles tiba-tiba. Kajian ESDM Aceh menyebutnya sebagai pergerakan tanah lambat atau slow moving landslide. Material di lokasi itu didominasi endapan vulkanik jenis tanah yang gampang jenuh air dan memang tidak stabil.
Faktor pemicunya berlapis. Karakter tanah yang porous itu diperparah oleh curah hujan tinggi khas pegunungan, ditambah lereng yang curam. Retakan-retakan lama di tanah menjadi jalur sempurna bagi air hujan untuk menyusup dan memperlemah struktur. Hasil pengamatan lapangan bahkan menunjukkan bidang gelincirnya hampir tegak lurus. Sungguh kondisi yang mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
Lubang di Jalan RE Martadinata Tewaskan Perempuan Pengendara Motor
260 Perwira Muda Lulusan Intelijen hingga Siber Resmi Diambil Sumpah Panglima TNI
Tokoh Muhammadiyah Ingatkan Prabowo: Waspada Siasat Licik di Balik Dewan Perdamaian Gaza
Daan Mogot Kembali Dilalui, Sisa Genangan 10 Cm Mengingatkan Bahaya