MURIANETWORK.COM - Keluhan warga di kawasan Haji Nawi, Cilandak, Jakarta Selatan, terkait kebisingan dari lapangan padel ternyata memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sebuah penelitian akustik terbaru mengungkap bahwa olahraga padel menghasilkan tingkat kebisingan yang lebih tinggi dibandingkan tenis, dengan karakter suara yang lebih tajam dan intens. Temuan ini menjadi perhatian serius, terutama bagi lapangan yang berdekatan dengan kawasan permukiman.
Studi Membandingkan Kebisingan Padel dan Tenis
Riset yang dirangkum dalam makalah berjudul 'A Summary of the Research Paper: A Noise Assessment of Padel' oleh Martin Higgins dari MW Acoustic Consultants, secara khusus dirancang untuk mengukur dan membandingkan kebisingan dari kedua olahraga raket tersebut. Penelitian ini berusaha mendapatkan bukti objektif dengan mengukur tingkat kebisingan di lapangan terbuka.
Objek studi adalah lapangan padel standar berukuran 10x20 meter yang semi tertutup dengan kaca dan kawat, serta lapangan tenis yang lebih luas dan terbuka. Perbedaan mendasar juga terletak pada peralatan; raket padel yang padat dan bola bertekanan lebih rendah menciptakan dinamika permainan yang berbeda.
Martin Higgins menjelaskan temuan utamanya dalam laporannya.
"Ketika diukur 5 meter dari sisi lapangan (di garis net), permainan padel pada umumnya menghasilkan rata-rata LAeq (tingkat kebisingan rata-rata) dan LAMax (tingkat kebisingan tertinggi), 6 desibel (dB) lebih tinggi daripada tenis, ini akan setara dengan peningkatan yang signifikan," ungkapnya.
"Sebaliknya, ketika diukur 5 meter dari ujung lapangan (garis dasar), tingkat kebisingan untuk padel dan tenis hampir identik," lanjut Higgins.
Karakter Suara yang Lebih Impulsif
Yang menjadi perhatian peneliti bukan hanya tingkat desibelnya, tetapi juga karakter suaranya. Suara benturan raket padel yang menghasilkan 'retakan' berfrekuensi tinggi bersifat lebih impulsif. Studi mencatat, dalam permainan padel, pukulan terjadi rata-rata setiap 4 detik, lebih sering daripada tenis yang setiap 6 detik.
Akumulasi suara benturan ini jauh lebih banyak. Dalam periode lima menit permainan tingkat klub, padel menghasilkan rata-rata 88 suara benturan berbeda, sementara tenis hanya 50. Perbedaan ini jelas terdengar oleh telinga dan berpotensi mengganggu.
Lokasi pengukuran juga sangat berpengaruh. Tingkat kebisingan di sisi lapangan tercatat sekitar 12 dB lebih tinggi daripada di ujung yang tertutup kaca, yang berarti kebisingan yang dirasakan bisa lebih dari dua kali lipat.
Imbauan Desain dan Regulasi yang Berlaku
Berdasarkan temuan tersebut, riset ini memberikan saran agar aspek akustik menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan dan desain lapangan padel, khususnya untuk meminimalisasi dampak terhadap lingkungan sekitar yang sensitif terhadap kebisingan.
Di Indonesia, masalah kebisingan ini sebenarnya telah diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996. Peraturan tersebut menetapkan baku mutu tingkat kebisingan, di mana untuk kawasan permukiman batas maksimalnya adalah 55 dBA setara dengan suasana kantor yang tenang.
Data dari berbagai sumber, termasuk federasi tenis dan riset akustik independen di Eropa, menunjukkan bahwa kebisingan di lapangan padel seringkali jauh melampaui ambang batas itu, dengan rata-rata mencapai 89-91 dB(A) dan bahkan bisa memuncak hingga 102 dB(A). Angka ini mengonfirmasi bahwa keluhan warga bukan tanpa alasan, dan menuntut solusi yang bijak dari berbagai pihak terkait.
Artikel Terkait
Hari Pertama Puasa, Stasiun Manggarai Dibanjiri Penumpang yang Buru-buru Pulang
Danamon dan Adira Finance Perpanjang Promo Kredit Mobil dengan Bunga Spesial 1,70% hingga 2026
Groundbreaking Huntap Danantara di Tanah Datar, 80 Unit Rumah Dituju Selesai dalam 3 Bulan
Mantan Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Dengan Hormat Terkait Kasus Narkoba