Wabah Nipah Kembali Serang India, Tenaga Medis Jadi Korban

- Kamis, 29 Januari 2026 | 16:18 WIB
Wabah Nipah Kembali Serang India, Tenaga Medis Jadi Korban

Wabah virus Nipah kembali muncul di India, mengingatkan dunia pada ancaman penyakit mematikan yang belum ada obat atau vaksinnya. Kali ini, setidaknya lima tenaga medis termasuk dokter dan perawat terkonfirmasi tertular. Situasi ini langsung menebar kekhawatiran.

Di sejumlah bandara internasional Asia, protokol kesehatan era pandemi COVID-19 pun dihidupkan kembali. Pengecekan suhu badan dan imbauan cuci tangan lebih sering terlihat, sebagai upaya mencegah virus itu menyebar melintasi perbatasan.

Lalu, dari mana asalnya? Kelelawar buah diyakini sebagai inang alami. Uniknya, hewan ini membawa virus tanpa jatuh sakit. Menurut sejumlah saksi dan penelitian, penularan ke manusia bisa terjadi lewat beberapa cara. Misalnya, kontak langsung dengan babi yang sudah terinfeksi. Atau, mengonsumsi buah yang terkontaminasi air liur kelelawar. Nira mentah dari pohon palem yang tercemar cairan tubuh hewan itu juga berisiko tinggi.

Merespons hal ini, KBRI New Delhi tak tinggal diam. Mereka segera mengeluarkan imbauan khusus bagi Warga Negara Indonesia yang berada di negeri Bollywood itu.

Demikian bunyi pesan yang mereka sampaikan melalui akun media sosialnya, Kamis (29/1). Tidak hanya imbauan, mereka juga memberikan edukasi singkat soal virus ini mulai dari penyebab, gejala, hingga cara mencegahnya.

Apa itu Virus Nipah?

Ini adalah penyakit infeksi zoonosis, artinya bisa berpindah dari hewan ke manusia. Kasusnya memang terhitung jarang, tapi dampaknya serius. Mengenali gejalanya sejak dini jadi kunci.

Bagaimana Penularannya?

Virus ini bisa menyebar lewat beberapa jalur. Konsumsi buah yang sudah terkontaminasi, misalnya. Atau kontak dengan hewan terinfeksi melalui urine, air liur, darah, maupun sekresi lainnya. Daging hewan sakit yang tidak dimasak matang juga berbahaya. Penularan antar manusia terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita.

tegas KBRI New Delhi.


Halaman:

Komentar