"Bisa jadi orderan bahan makanan untuk SPPG ini omzetnya lebih besar dari pada kalau dia jualan seperti biasa," tambah Nanik, meyakinkan.
Namun begitu, Nanik yang juga menjabat Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian/Lembaga untuk MBG ini mengingatkan agar para mitra tidak terjebak pada orientasi bisnis semata. Ia meminta mereka lebih peka terhadap kondisi sekolah penerima manfaat.
Perhatian itu bisa diwujudkan dalam bentuk yang sangat konkret. Misalnya, membantu memperbaiki atap yang bocor, membangun WC atau wastafel jika sekolah tak memilikinya. Bahkan, perhatian bisa diberikan kepada para guru honorer dan tenaga pendidik di sekolah tersebut.
"Anda bisa membelikan sarung atau mukena, untuk guru-guru, atau untuk orang tua siswa yang tidak mampu. Itu semua menjadi shodaqoh jariyah anda semua," pungkasnya.
Intinya, program MBG ini diharapkan tak hanya sekadar membagikan makanan. Lebih dari itu, ia harus menjadi jaring pengaman sosial yang menyokong perekonomian lokal dan membangun kepedulian bersama terhadap dunia pendidikan. Sebuah tugas yang berat, tapi bukan mustahil jika semua pihak bergerak bersama.
Artikel Terkait
Kritikus Soroti Krisis Kepemimpinan: Negara Butuh Negarawan, Bukan Penjual Kedaulatan
MUI Soroti Langkah Indonesia Bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump
Polda Metro Jaya Kerahkan 975 Personel Amankan Jakarta Menjelang Ramadan
Warga Konoha Waswas, Aparat Keamanan Dinilai Tak Lagi Beri Rasa Aman