Iran Tangkap 20 Orang Diduga Kirim Data Sensitif ke Israel

- Minggu, 15 Maret 2026 | 20:40 WIB
Iran Tangkap 20 Orang Diduga Kirim Data Sensitif ke Israel

Setidaknya dua puluh orang diamankan oleh aparat Iran di wilayah barat laut negara itu. Mereka dicurigai berkolaborasi dengan Israel. Penangkapan ini terjadi lebih dari dua pekan setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Menurut kantor berita Fars yang mengutip pernyataan jaksa provinsi Hossein Majidi, para tersangka itu tertangkap tangan saat mengirimkan data sensitif.

"Dua puluh orang ditangkap dan ditahan setelah mereka ditemukan mengirimkan detail lokasi militer, penegak hukum, dan keamanan kepada musuh Zionis," ujarnya.

Penggerebekan ini berlangsung di Provinsi Azerbaijan Barat, menyasar sebuah jaringan yang diduga terkait Israel. AFP melaporkan hal itu pada Minggu (15/3/2026).

Sejak perang pecah, pihak berwenang Iran memang gencar melakukan operasi serupa. Ratusan orang telah dibekuk dalam beberapa hari terakhir dengan tuduhan bekerja sama tidak hanya dengan Israel, tapi juga Amerika Serikat.

Semuanya berawal dari serangan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Serangan itu merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kematiannya langsung memicu gelombang pembalasan dari Tehran.

Di sisi lain, isolasi digital yang dialami Iran sejak perang mulai ikut mempengaruhi situasi. Negara itu praktis terputus dari dunia karena pemadaman internet total. Untuk menjangkau dunia luar, tak sedikit warga yang nekat menggunakan terminal Starlink milik SpaceX teknologi satelit asal AS yang jelas-jelas dilarang di sana.

Bahkan, kantor berita resmi IRNA baru-baru ini melaporkan penangkapan seorang individu. Orang ini diduga mengirimkan informasi ke saluran televisi Iran International yang berbasis di London menggunakan perangkat Starlink tersebut.

Saluran itu sendiri sudah dicap bermasalah oleh Tehran. Sejak Januari, Iran melarang segala bentuk kerja sama dengan Iran International, yang mereka sebut sebagai "afiliasi dari rezim Zionis".

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar