Tukang Es Gabus Diserbu Aparat, Ternyata Tuduhan Spons Meleset Total

- Rabu, 28 Januari 2026 | 05:36 WIB
Tukang Es Gabus Diserbu Aparat, Ternyata Tuduhan Spons Meleset Total

Sabtu lalu di Kemayoran, suasana panas tak cuma datang dari terik matahari. Suderajat, tukang es gabus berusia 50 tahun, mendapati dagangannya diserbu bukan oleh pembeli, melainkan oleh aparat. Anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa mendatanginya dengan tuduhan yang terdengar aneh: menjual es gabus dari spons.

Video yang kemudian viral itu memperlihatkan adegan yang tak pantas. Es gabus itu justru dijejalkan ke mulut Suderajat sendiri. Menurut penuturannya, ia juga mengalami kekerasan. Padahal, ia sudah berusaha meyakinkan bahwa dagangannya itu es sungguhan, bukan barang mainan.

Nah, belakangan ketahuan. Hasil uji lab Polres Metro Jakarta Pusat menyatakan es itu aman dikonsumsi. Ternyata, tuduhan itu meleset sama sekali.

Kedua aparat, Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Heri, akhirnya mengeluarkan permintaan maaf.

"Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video tentang penjual es hunkwe yang diduga berbahan spons di wilayah Kemayoran, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial,"

Dalam video permintaan maafnya, mereka bilang tindakan itu adalah respons cepat atas laporan warga yang khawatir.

"Namun demikian, kami menyadari bahwa kami telah menyimpulkan terlalu cepat, tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari pihak berwenang seperti Dinas Kesehatan, Dokpol, maupun Labfor Polri. Seharusnya proses klarifikasi dan verifikasi dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan informasi kepada masyarakat,"
"Atas kekeliruan tersebut, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya, khususnya kepada Bapak Suderajat, pedagang es yang terdampak langsung oleh kejadian ini. Tidak ada maksud untuk merugikan atau mencemarkan nama baik beliau,"

Trauma yang Dalam

Akibat kejadian itu, Suderajat kapok. Padahal, sudah tiga puluh tahun ia menggeluti pekerjaan jualan es gabus. Trauma itu mengalahkan kebiasaan puluhan tahun.

Dagangannya ia ambil dari sebuah pabrik di Depok, lalu dibawa ke Kemayoran karena lebih laku. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp 300 hingga 400 ribu. Cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi sekarang, semuanya berhenti.

"Kapok saya, malem. Takutnya saya ditimpuk pakai batu gede,"

Ucapnya lirih. Untuk menyambung hidup, ia memilih berjualan gorengan di sekitar rumahnya saja. Lebih aman, katanya.

Gelombang Simpati dan Bantuan

Cerita pilu Suderajat ternyata menyentuh banyak hati. Bantuan pun berdatangan dari berbagai penjuru, mulai dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Pemkab Bogor, sampai Kepolisian RI.

Di rumah sederhananya di sebuah gang di Bojonggede, Bogor, suasana Selasa lalu ramai oleh tamu. Pertama, perangkat daerah datang membawa sembako dan janji.

Elfi Nila Hartanti, Sekretaris Kecamatan, mengatakan pihaknya akan membantu anak-anak Suderajat untuk kembali bersekolah. Dari empat anaknya, disebutkan satu masih sekolah dan tiga lainnya putus. Meski data ini sedikit berbeda dengan penjelasan Suderajat yang menyebut punya lima anak, niat untuk membantu pendidikan tetap mengemuka.

“Kami akan bantu mereka mengenyam kembali pendidikan sesuai perintah presiden. Ini menjadi PR kita untuk lebih memperhatikan masyarakat sekitar agar dapat mengenyam pendidikan,”

Kemudian, utusan Gubernur Jawa Barat menelepon dan mengajak Suderajat bertemu. Rencananya pertemuan akan segera dilakukan.

Tak ketinggalan, kepolisian juga turun tangan. Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras, datang langsung menyerahkan bantuan sebuah sepeda motor dan sejumlah uang.

“Kami berikan sedikit bantuan terhadap Bapak Suderajat berupa motor dan sedikit tambahan untuk menambah usaha Bapak Suderajat,”

Abdul Waras berusaha menenangkan Suderajat.

“Enggak akan terjadi apa-apa karena sudah ada jaminan dari Pak Kapolres,”

Katanya meyakinkan. Bantuan itu mungkin bisa meringankan, tapi rasa trauma dan kepercayaan yang terkoyak, butuh waktu lebih lama untuk pulih.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar