Sabtu lalu di Kemayoran, suasana panas tak cuma datang dari terik matahari. Suderajat, tukang es gabus berusia 50 tahun, mendapati dagangannya diserbu bukan oleh pembeli, melainkan oleh aparat. Anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa mendatanginya dengan tuduhan yang terdengar aneh: menjual es gabus dari spons.
Video yang kemudian viral itu memperlihatkan adegan yang tak pantas. Es gabus itu justru dijejalkan ke mulut Suderajat sendiri. Menurut penuturannya, ia juga mengalami kekerasan. Padahal, ia sudah berusaha meyakinkan bahwa dagangannya itu es sungguhan, bukan barang mainan.
Nah, belakangan ketahuan. Hasil uji lab Polres Metro Jakarta Pusat menyatakan es itu aman dikonsumsi. Ternyata, tuduhan itu meleset sama sekali.
Kedua aparat, Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Heri, akhirnya mengeluarkan permintaan maaf.
Dalam video permintaan maafnya, mereka bilang tindakan itu adalah respons cepat atas laporan warga yang khawatir.
Trauma yang Dalam
Akibat kejadian itu, Suderajat kapok. Padahal, sudah tiga puluh tahun ia menggeluti pekerjaan jualan es gabus. Trauma itu mengalahkan kebiasaan puluhan tahun.
Dagangannya ia ambil dari sebuah pabrik di Depok, lalu dibawa ke Kemayoran karena lebih laku. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp 300 hingga 400 ribu. Cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi sekarang, semuanya berhenti.
Ucapnya lirih. Untuk menyambung hidup, ia memilih berjualan gorengan di sekitar rumahnya saja. Lebih aman, katanya.
Artikel Terkait
Amien Rais Soroti Perpecahan Umat dan Ancaman Munafik di Silaturahmi Bogor
Rocky Gerung Kembali Diperiksa, Ijazah Jokowi dan Pertarungan Moral di Baliknya
Lebih Baik Jadi Petani: Polemik Posisi Polri di Bawah Kementerian
Es Kue Spons dan Wajah Bengis Negara di Pinggir Jalan