Karena itulah, membuka kembali ruang untuk berbagi cerita kini jadi kebutuhan yang mendesak. Ruang ini tak harus selalu berupa layanan profesional walau itu penting bisa dimulai dari hal paling dasar. Keluarga yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi, misalnya. Atau sekolah yang menyediakan waktu untuk dialog, bukan sekadar ceramah. Lingkungan sosial yang berhenti meremehkan perasaan orang lain juga krusial.
Intinya, bertanya dan mendengarkan harus jadi kebiasaan lagi, bukan formalitas. Memberi ruang bercerita bukan berarti membenarkan semua pilihan, tapi membuka kemungkinan untuk menghadapi masalah bersama-sama.
Pada akhirnya, generasi yang sehat bukanlah mereka yang selalu terlihat kuat. Melainkan yang diberi kesempatan untuk jujur pada dirinya sendiri. Anak muda tak butuh nasihat instan atau tuntutan untuk selalu "baik-baik saja". Mereka butuh ruang untuk berbagi dan keyakinan bahwa suara mereka layak didengar.
Perbedaan pendapat pasti akan selalu ada. Tapi selama ruang dialog tetap terbuka, kita bisa berjalan beriringan tanpa merasa paling benar, dan tanpa kehilangan satu generasi hanya karena mereka dipaksa diam terlalu lama.
Artikel Terkait
Belajar Pergi: Ketika Bertahan Terlalu Lama Justru Melukai Diri Sendiri
Amien Rais Soroti Pudarnya Semangat Persatuan Umat Islam di Tengah Perdebatan Furuiyyah
Choi Woo Sung: Dari Peran Pendukung Hingga Sorotan di Can This Love Be Translated
Salah Kaprah Istilah Sahabat Nabi: Dari Makna Asli hingga Tafsir Halu di Medsos