Di sisi lain, Gus Ipul mengingatkan bahwa bansos bukanlah tujuan akhir. Bantuan ini sifatnya sementara.
“Bansos itu tidak dimaksudkan untuk membuat penerima ‘dininabobokan’,” katanya.
“Tujuan akhirnya adalah agar penerima manfaat bisa berdaya dan mandiri, tidak terus menerus bergantung pada bansos.”
Selain soal pengawasan bansos, audiensi itu juga menyoroti peran Dinas Sosial dalam melayani 12 Pemerlu Atensi Sosial (PAS). Gus Ipul mendorong setiap daerah memiliki fasilitas layanan dasar, seperti rumah singgah, sebagai bagian dari standar pelayanan minimal.
Pembahasan kemudian merambah ke program Sekolah Rakyat di Kalsel. Dibahas progres pembangunan sekolah permanen dan kesiapan lahan di sejumlah wilayah. Gus Ipul menegaskan, penentuan siswa harus melalui mekanisme ketat berbasis data, dan ditetapkan oleh kepala daerah.
“Tanpa adanya titipan,” tegasnya.
Di akhir pertemuan, Gus Ipul menutup dengan pesan kolaborasi. “Kita harus gandeng tangan. Kementerian Sosial tidak akan meninggalkan daerah. Semua program ini hanya bisa berjalan kalau pusat dan daerah bergerak bersama.”
Audiensi itu dihadiri sejumlah pejabat tinggi Kemensos, seperti Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, serta seluruh Kepala Dinas Sosial Provinsi dan kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Artikel Terkait
Guru SMP di Luwu Utara Berdarah Diduga Dianiaya Siswa
KPK Selidiki Aliran Dana Suap Pajak hingga ke Ditjen Pajak
Amnesty Soroti Langkah Indonesia Bergabung dengan Inisiatif Perdamaian AS
Polda Metro Jaya Minta Maaf, Pedagang Es Gabus Ternyata Tak Bersalah