Bayangkan sebuah kompleks di jantung Makkah, bukan cuma deretan kamar untuk istirahat jamaah. Itulah visi Kampung Haji Indonesia yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2028. Sebuah proyek ambisius di lahan hampir 5 hektar di kawasan Zaker ini diharapkan bisa menjadi lebih dari sekadar penginapan massal.
Menurut Abdul Hakam Naja, peneliti dari INDEF, potensinya jauh lebih besar. Ia membayangkannya sebagai "hub" atau pusat perdagangan. Sebuah gerbang ekspansi ekonomi Indonesia yang membidik pasar Timur Tengah, bahkan merambah ke Afrika Utara dan Eropa.
"Kampung haji di Saudi itu menjadi hub kita," ujar Hakam dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
"Menjadi perwakilan kita untuk ekspansi di Timur Tengah khususnya dan di Afrika Utara. Mungkin nanti bisa jadi hub untuk ke Eropa."
Konsepnya memang berbeda. Mereka ingin membangun sesuatu yang terintegrasi, mirip seperti mal. Rencananya, pembangunan akan dilakukan bertahap. Saat ini sudah tersedia 1.400 kamar. Jumlah itu akan ditambah lagi dengan 6.000 kamar baru, yang bisa menampung lebih dari 20.000 jamaah sekaligus.
Namun begitu, angka itu masih terasa kecil. Itu baru sekitar 10 persen dari total kuota jamaah haji Indonesia per tahun yang mencapai 221.000 orang. Artinya, masih panjang jalan menuju kapasitas ideal.
"Tidak hanya penginapan itu," jelas Hakam, menekankan visi integrasi tersebut. "Karena nanti akhirnya kita kayak mall untuk pelayanan perdagangan, kuliner, akomodasi dan sebagainya."
Di sisi lain, Hakam sangat menekankan peran pelaku usaha kecil. Menurutnya, UMKM harus dilibatkan secara serius, terutama untuk produk fesyen, kuliner halal, dan cenderamata. Selama ini, pasar souvenir haji di Arab Saudi justru banyak diisi produk dari China. Situasi yang ia rasa harus diubah.
"Kita harusnya sudah mulai berpikir fashion-nya juga sudah kita harus mulai masuk," tegasnya.
Ada lagi ide menarik yang ia usung: ekspansi QRIS. Sistem pembayaran digital lokal yang baru dirintis pemerintah ini diusulkannya untuk dipakai di Kampung Haji. Bayangkan jika seluruh jamaah haji dan umrah Indonesia bertransaksi menggunakan QRIS di sana. Bukan cuma mempermudah, tapi juga bisa menjadikan Indonesia pelopor pembayaran digital di Saudi. Sekaligus, tentu saja, mengurangi ketergantungan pada jaringan kartu kredit global seperti Mastercard dan Visa.
"Kalau kita nanti bisa go international Qris ini di negara Timur Tengah, kemudian di Emirat Arab, Qatar, Turki dan sebagainya, itu nanti saya kira betul-betul yang kita cita-citakan," kata Hakam dengan penuh keyakinan.
Ia menggambarkan keberhasilan Kampung Haji ini bak "lokomotif yang menarik gerbong panjang" dari seluruh ekosistem ekonomi haji dan umrah. Tapi mimpi besar butuh kerjasama solid. Kolaborasi antar kementerian mulai dari Haji dan Umrah, Perdagangan, Pariwisata, hingga Perhubungan serta BUMN seperti Danantara, disebutnya mutlak diperlukan.
"Ini adalah Indonesia Incorporated yang harusnya memang tumbuh dari sini," tandas Hakam.
"Kalau ini dimulai dari reformasi pengelolaan haji dan umrah ini dahsyat dan ini kan riil dan dirasakan langsung oleh masyarakat."
Angkanya tidak main-main. Potensi ekonomi haji dan umrah Indonesia disebutkan mendekati Rp100 triliun per tahun. Dengan besarnya angka itu, Kampung Haji yang visioner bisa menjadi pintu gerbang emas. Sebuah peluang bagi produk UMKM lokal untuk menembus pasar global, sekaligus menahan agar dana masyarakat tidak terus-menerus bocor ke luar negeri.
Visi sudah ada. Lahan pun siap. Tinggal eksekusinya yang akan membuktikan.
Artikel Terkait
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar