KSAD Buka Suara Soal WNI Jadi Tentara Asing: Di Sini Gratis, Tak Perlu Bayar

- Senin, 26 Januari 2026 | 20:30 WIB
KSAD Buka Suara Soal WNI Jadi Tentara Asing: Di Sini Gratis, Tak Perlu Bayar

Di tengah ramainya perbincangan soal Warga Negara Indonesia yang memilih jadi tentara untuk negara lain, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak angkat bicara. Ia dengan tegas menyatakan, proses masuk TNI itu gratis. Titik. Tak ada pungutan biaya.

Pernyataannya ini, tentu saja, jadi jawaban atas fenomena yang belakangan mencuat. Beberapa WNI memang tercatat bergabung dengan militer asing, termasuk Amerika Serikat.

“Itu haknya dia pribadi,” ujar Maruli saat ditemui di sekitar Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin lalu.

Namun begitu, ia menepis anggapan yang beredar. Banyak orang menduga seleksi ketat di TNI ada kaitannya dengan praktik uang. Bagi Maruli, itu sama sekali tidak benar. Keketatan seleksi, menurutnya, murni karena pemeriksaan yang sangat detail. Mereka mengecek semua, mulai dari kesehatan sampai kemampuan calon prajurit.

“Ya kalau memang kita lihat kualitas seleksinya, di kita seleksinya lebih ketat. Tapi bukan karena bayar. Kita cek semua kesehatannya, kemampuannya,” jelasnya.

Ia bahkan bercerita berdasarkan pengalaman pribadi. Maruli mengaku dirinya dulu jadi tentara juga tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Soal pilihan orang untuk mendaftar di militer negara lain, ia kembali menegaskan itu adalah hak individu.

“Saya juga menjadi tentara enggak pernah bayar. Kalau dia mau jadi tentara di sana sebaiknya ya enggak usah berkomentar di sini,” katanya dengan nada lugas.

Lalu, bagaimana dengan status kewarganegaraan mereka? Soal ini, Maruli tak mau berkomentar panjang lebar. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang.

“Kalau status warga negaranya tanya imigrasi,” tuturnya singkat.

Di sisi lain, Maruli memandang fenomena ini sebagai hal yang biasa saja. Ia yakin, hal semacam ini tidak akan mengurangi minat anak muda di dalam negeri untuk mengabdi di TNI.

“Ya biasa aja,” katanya. “Anggota prajurit kita masih banyak yang mau jadi tentara di sini, orang Indonesia.”

Intinya, bagi KSAD, fenomena itu bukan masalah. Yang justru jadi masalah adalah tudingan-tudingan miring soal pungutan liar.

“Nggak ada masalah,” tegas Maruli. “Cuma yang jadi masalah kok tega-teganya bilang harus bayar. Gimana bayarnya?”

Soal pengawasan, TNI punya tim pemeriksa sendiri yang selalu bekerja. “Selalu, kita selalu ada tim pemeriksa untuk itu,” ujarnya. Memang, pelanggaran mungkin saja terjadi di lapangan. “Ya kalau ada kejadian-kejadian tertangkap, itu ada di mana-mana,” lanjutnya mengakui.

Fenomena WNI di militer asing ini memang bukan kali pertama. Sebelumnya, beredar video seorang gadis bernama Kezia Syifa berpamitan dengan orang tuanya. Dalam video itu, ia terlihat mengenakan seragam tentara Amerika Serikat.

Kasus lain juga pernah mengejutkan publik. Ada Brigadir Polisi Dua Muhammad Rio, anggota Brimob Polda Aceh, yang didesersi dan memilih bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia.

Tak hanya itu, nama Satriya Arta Kumbara juga muncul. Mantan prajurit Korps Marinir TNI AL ini diketahui ikut berperang di Ukraina sebagai bagian dari tentara Rusia. Berbagai kasus ini, rupanya, menjadi latar belakang pernyataan tegas sang KSAD.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar