Data dari BPBD Pemalang melengkapi gambaran bencana ini. Semua berawal dari hujan ekstrem yang mengguyur lereng Slamet sejak Jumat malam, 13 Januari lalu. Dampaknya langsung terasa di Kecamatan Pulosari dan Moga.
Hujan dengan intensitas tinggi itu membuat Sungai Kali Soso, Kali Penakir, dan Sungai Gintung tak mampu lagi menahan beban. Air meluap deras, menerjang permukiman warga dan merusak apa saja yang dilaluinya. Akibatnya, tak kurang dari 1.805 warga Pulosari harus mengungsi meninggalkan rumah mereka.
Korban jiwa pun berjatuhan. Di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, seorang warga tewas terseret banjir. Sementara di Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, longsor menewaskan satu orang. Satu orang lagi dari kejadian yang sama masih hilang. Yang memilukan, kedua korban di Bongas itu adalah hubungan ayah dan anak.
Di tempat lain, tepatnya di Desa Sima, Kecamatan Moga, tujuh orang mengalami luka-luka. Mereka sudah mendapat pertolongan medis pertama.
Kerusakan infrastrukturnya pun sangat parah. Beberapa jembatan vital putus total. Jembatan Walim dan Jembatan Beser di Desa Gunungsari, yang jadi penghubung utama Dusun Silegok-Sipendil, kini tak bisa dilalui. Begitu pula jembatan di Dusun Batursari yang melintasi Sungai Comal, rusak berat.
Tak cuma itu, Jembatan Sungai Reas di Jurangmangu juga rusak. Parahnya, jaringan perpipaan air bersih di desa yang sama ikut hanyut terbawa arus ganas.
Rumah warga juga tak luput dari amukan alam. Delapan unit rumah hanyut sama sekali. Lalu, 18 unit lainnya rusak berat dan 24 unit lagi mengalami kerusakan tingkat sedang. Pemandangannya sungguh memilukan.
Artikel Terkait
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional
Pembentukan DOB Luwu Raya Tertunda, Tunggu Regulasi dan Keputusan Pusat