Untungnya, Abah Ade dan kedua anggota keluarganya selamat. Meski begitu, dia tak sepenuhnya lolos. Saat berusaha menolong warga, sebuah kayu menimpa tubuhnya dan melukainya.
Luka yang Tak Kasat Mata
Luka fisiknya mungkin bisa sembuh. Tapi ingatan tentang malam mengerikan itu? Itu lain cerita.
Sekarang, setiap kali hujan deras mengguyur atau ada gemuruh dari kejauhan, ketakutan yang sama langsung menyergap. Trauma itu nyata dan mengakar. Sejak kejadian, Abah Ade mengaku tak sanggup lagi kembali ke bekas kampung halamannya. Ia tak mau melihatnya lagi.
“Sekarang seperti laut, semuanya rata. Saya trauma dan tidak mau melihat lokasi itu lagi,”
tuturnya lirih.
Bencana longsor dan banjir bandang di Cisarua itu memang tak main-main. Selain meluluhlantakkan permukiman, musibah ini juga merenggut banyak nyawa. Data terakhir menyebut, setidaknya 17 orang ditemukan tewas. Sementara 73 lainnya masih hilang, meninggalkan nestapa dan tanda tanya yang belum terjawab.
Artikel Terkait
Dokter Gadungan dan 48 Transfer dalam Sehari: Kisah Pilu Via, Korban Love Scam Rp220 Juta
FPI Desak Pemerintah Tolak Rencana Trump Soal Gaza, Khawatir Legitimasi Penjajahan
Kapolri Sigit: Lebih Baik Saya Dicopot Ketimbang Polri Digabung ke Kemendagri
TNI Bersihkan Sisa Banjir di Sembilan Sekolah Tapanuli, Belajar Tetap Berjalan