Untungnya, Abah Ade dan kedua anggota keluarganya selamat. Meski begitu, dia tak sepenuhnya lolos. Saat berusaha menolong warga, sebuah kayu menimpa tubuhnya dan melukainya.
Luka yang Tak Kasat Mata
Luka fisiknya mungkin bisa sembuh. Tapi ingatan tentang malam mengerikan itu? Itu lain cerita.
Sekarang, setiap kali hujan deras mengguyur atau ada gemuruh dari kejauhan, ketakutan yang sama langsung menyergap. Trauma itu nyata dan mengakar. Sejak kejadian, Abah Ade mengaku tak sanggup lagi kembali ke bekas kampung halamannya. Ia tak mau melihatnya lagi.
“Sekarang seperti laut, semuanya rata. Saya trauma dan tidak mau melihat lokasi itu lagi,”
tuturnya lirih.
Bencana longsor dan banjir bandang di Cisarua itu memang tak main-main. Selain meluluhlantakkan permukiman, musibah ini juga merenggut banyak nyawa. Data terakhir menyebut, setidaknya 17 orang ditemukan tewas. Sementara 73 lainnya masih hilang, meninggalkan nestapa dan tanda tanya yang belum terjawab.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional