Target 500.000 Pekerja Migran pada 2026, Menteri Mukhtarudin Beberkan Strategi Quick Win

- Rabu, 17 Desember 2025 | 10:24 WIB
Target 500.000 Pekerja Migran pada 2026, Menteri Mukhtarudin Beberkan Strategi Quick Win

Di Jakarta, Selasa lalu, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin berbincang dengan sejumlah pimpinan redaksi media. Pertemuan itu tak sekadar formalitas. Dari sana, muncul satu pernyataan yang cukup mengejutkan: pihaknya tengah bersiap mengirimkan 500.000 Pekerja Migran Indonesia pada tahun 2026.

Target itu bukan angka main-main. Rupanya, ini merupakan bagian dari program 'quick win' yang dicanangkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Intinya, pemerintah ingin mencetak sebanyak mungkin SDM terampil untuk bersaing di luar negeri.

"Yang jelas kita akan melakukan program quick win dari Bapak Presiden, yaitu tentang penyiapan 500.000 pekerja migran," tegas Mukhtarudin.

Dia membeberkan, persiapannya akan mencakup segala sisi. Mulai dari fokus pelatihan, penyiapan SDM, hingga penempatannya kelak.

Namun begitu, mewujudkan target sebesar itu tentu bukan perkara gampang. KemenP2MI kini tengah melakukan persiapan intensif. Mereka memetakan kebutuhan di berbagai negara tujuan, sekaligus meningkatkan kapasitas dan pelatihan bagi calon pekerja. Semua harus berjalan cepat, mengingat ini adalah program prioritas.

"Ini harus kita lakukan karena ini program quick win dan core program yang diumumkan langsung oleh Bapak Presiden, sehingga menjadi prioritas," ujar Menteri.

Kunci utamanya? Kerja sama. Mukhtarudin menekankan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor.

"Kita akan bekerja sama dengan seluruh stakeholders, instrumen-instrumen negara, lembaga, instansi pemerintah di tingkat pusat maupun daerah, serta berkaitan juga dengan program-program kementerian," imbuhnya.

Di lapangan, salah satu strategi konkret yang digencarkan adalah memanfaatkan sekolah rakyat. Tempat itu akan dijadikan wadah untuk meningkatkan kualitas calon pekerja migran. Melalui pendekatan ini, diharapkan edukasi dan pelatihan vokasi yang diberikan benar-benar selaras dengan tuntutan pasar kerja global yang terus berubah.

Lalu, bagaimana dengan nasib pekerja setelah mereka berangkat? Menurut Mukhtarudin, aspek perlindungan dan pemberdayaan tak kalah penting. Ke depan, KemenP2MI berkomitmen memperkuat hal itu melalui sinergi yang lebih erat. Tidak hanya dengan kementerian lain dan pemerintah daerah, tapi juga melibatkan lembaga pelatihan serta perguruan tinggi.

"Ini yang harus kita fokuskan ke depan, dalam konteks penyiapan SDM, kemudian juga dalam konteks perlindungan dan pemberdayaannya. Jadi semuanya akan kita lakukan secara sistematis dan berkelanjutan," pungkasnya.

Pada akhirnya, program besar ini diharapkan memberi dampak ganda. Bukan cuma mengejar angka, tapi juga memastikan setiap pekerja terlindungi dengan baik sejak sebelum berangkat hingga pulang ke tanah air. Jika berjalan mulus, kontribusi mereka bisa menjadi motor penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar