Suara itu menggelegar, persis seperti helikopter raksasa hendak mendarat di atap rumahnya. Abah Ade, 60 tahun, terbangun kaget. Sa itu Sabtu dini hari, 24 Januari. Rumahnya di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, tiba-tiba berguncang hebat.
Dia buru-buru keluar. Dan yang dilihatnya membuatnya membeku: air bah hitam pekat, bercampur lumpur, meluncur ganas dari perbukitan. Arus deras itu membawa apa saja kayu gelondongan, tanah, bahkan puing-puing rumah menghancurkan segala yang dilintasinya. Semua terjadi begitu cepat. Hampir tak ada kesempatan untuk berlari.
“Suaranya besar sekali kayak gemuruh helikopter atau pesawat ada di atas rumah. Saya lihat langsung air turun dari atas,”
kenang Abah Ade, seperti dilaporkan Antara.
Sebagai Ketua RT 05, nalurinya langsung bekerja. Rasa takut dikesampingkan. Di tengah kegelapan dan hujan yang mengguyur tak karuan, ia berlari menyusuri kampungnya yang perlahan-lahan sirna diterjang banjir bandang. Teriakan minta tolong bersahutan dari mana-mana. Tapi upaya penyelamatan saat itu nyaris mustahil. Arusnya terlalu kuat, terlalu ganas.
Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan beberapa warganya berteriak minta tolong, sebelum akhirnya terseret dan hilang ditelan gulungan air keruh. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Dari 23 kepala keluarga di RT 05, hanya dua keluarga yang berhasil selamat. Kampung yang telah puluhan tahun dihuni, dalam sekejap berubah menjadi hamparan lumpur tak bertepi. Sekitar 70 orang dinyatakan hilang. Duka yang tertinggal terasa begitu dalam dan menyakitkan.
Artikel Terkait
Dokter Gadungan dan 48 Transfer dalam Sehari: Kisah Pilu Via, Korban Love Scam Rp220 Juta
FPI Desak Pemerintah Tolak Rencana Trump Soal Gaza, Khawatir Legitimasi Penjajahan
Kapolri Sigit: Lebih Baik Saya Dicopot Ketimbang Polri Digabung ke Kemendagri
TNI Bersihkan Sisa Banjir di Sembilan Sekolah Tapanuli, Belajar Tetap Berjalan