“Kami tidak akan membiarkan kejatuhan satu orang membuat kami menurunkan kewaspadaan atau mengendurkan tingkat kesiapsiagaan perang yang seharusnya kami jaga,” tegasnya.
Intelijen Dikerahkan, Taiwan Fokus Baca Niat Beijing
Lalu, bagaimana cara Taiwan membaca situasi ini? Koo menyebut mereka akan mengandalkan segala metode intelijen yang ada. Pengawasan, pengintaian, plus berbagi informasi dengan negara-negara mitra, semua dikerahkan untuk mencoba memahami kemana arah kebijakan militer China selanjutnya.
“Terkait ancaman terhadap kami, fokusnya adalah pada indikator dan tanda-tanda peringatan dini. Ini harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di sisi militer tetapi juga non-militer,” papar Koo di hadapan para legislator.
Ia juga menyoroti peningkatan aktivitas militer China yang kian menjadi. Latihan perang terbaru di sekitar Taiwan, ditambah kenaikan anggaran pertahanan Beijing yang signifikan, dianggapnya sebagai indikasi bahwa ancaman justru makin memburuk, bukan membaik.
Pada akhirnya, ketegangan ini berakar pada perbedaan pandangan yang mendasar. China hingga hari ini tetap bersikukuh tidak menanggalkan opsi penggunaan kekuatan untuk mengambil alih Taiwan. Sementara pemerintah di Taipei berpegang pada prinsip bahwa masa depan pulau itu hanya boleh ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Jarak antara kedua posisi itu, sayangnya, masih terasa sangat jauh.
Artikel Terkait
Gus Alex Ditahan Usai Pemeriksaan, Kasus Kuota Haji Tembus Rp 1 Triliun
DPR Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden, Wacana Kementerian Ditutup
Utut Adianto Tantang Komdigi: Buat Apa Ada Kementerian Ini?
Tangan Terikat, Guru SD Tewas: Pelaku Diduga Teman Dekat Masih Buron