Anak Tumbuh Sehat Itu, karena Cinta Orang Tua Bukan MBG
Hari Sinastrio
Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 21 Januari 2026 terdengar begitu optimistis. Ia bilang, anak-anak sekarang lebih sehat dan jarang sakit, berkat program MBG yang sudah berjalan setahun.
Klaim itu meluncur begitu saja ke publik. Penuh keyakinan, tapi maaf agak menggelikan. Seolah-olah satu kali makan siang bisa menjelaskan seluruh perjalanan panjang tumbuh kembang seorang anak. Seolah pula, sebelum program ini muncul, kondisi kesehatan anak-anak kita benar-benar bermasalah. “Abong ngocoblak mah teu meuli,” begitu kata orang Sunda. Kurang lebih artinya, bicara itu gampang, tak perlu membeli.
Saya mendengar klaim itu sambil memandang anak saya sendiri di rumah. Dia tumbuh dari dapur kami yang sederhana, bukan dari podium atau konferensi pers. Kesehatannya terjaga lewat rutinitas harian yang mungkin membosankan, bukan seremoni. Dan dia sudah baik-baik saja, jauh sebelum ada yang namanya MBG.
Setiap pagi, saya buatkan susu Milo. Sesekali kami makan di luar, tapi tetap pilih yang sehat. Ada dua-tiga waktu makan yang kami jaga sebisanya. Semua terjadi tanpa kamera, tanpa pengumuman resmi.
Anak saya tumbuh perlahan. Kadang demam, batuk, itu hal biasa. Kami antre di puskesmas, tebus obat, lalu dia sembuh. Proses itu sudah berlangsung bertahun-tahun, sejak lama sebelum MBG jadi program nasional. Kesehatan, bagi saya, bukan peristiwa mendadak. Ia adalah proses yang dirawat dalam diam, seringkali dalam rentang waktu yang panjang.
Lalu negara datang dengan makan siangnya. Niatnya bagus, siapa yang menolak? Tapi klaim yang menyertainya itu lho, rasanya kok melangkah terlalu jauh. Dari satu piring, seakan negara merasa punya andil atas seluruh cerita hidup anak.
Padahal, makan siang itu cuma tambahan. Bukan asal-usul. Ia membantu, bukan menciptakan. Hadirnya di tengah perjalanan, bukan di garis start. Mengubahnya jadi sebab utama adalah lompatan logika yang terburu-buru.
Artikel Terkait
DPR Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden, Wacana Kementerian Ditutup
Utut Adianto Tantang Komdigi: Buat Apa Ada Kementerian Ini?
Tangan Terikat, Guru SD Tewas: Pelaku Diduga Teman Dekat Masih Buron
Fidan: Dewan Perdamaian Gaza Bisa Jadi Titik Balik Bersejarah