Ketika anak disebut sehat hanya karena MBG, ada banyak peran yang tiba-tiba terhapus. Peran orang tua yang bekerja tanpa tepuk tangan, peran keluarga yang bertahan dalam sunyi. Semua itu lenyap oleh satu kalimat optimistis dari podium.
Negara ibarat tamu yang datang saat meja hampir bersih. Ia mencicipi sesuap, lalu bilang pesta ini sukses berkat dirinya. Padahal, hidangan sudah disiapkan sejak pagi buta. Dan dapur telah berasap lama sebelumnya.
Saya tidak memusuhi programnya. Saya cuma menolak cara mereka merampas makna. Sehat itu bukan angka di presentasi, melainkan keseharian yang rapuh dan terus dijaga. Mengklaimnya sembarangan adalah bentuk ketidakadilan.
Kalau negara mau jujur, katakan saja bahwa MBG ini pelengkap. Katakan ia membantu keluarga yang memang butuh. Tapi jangan pernah bilang program ini menciptakan kesehatan dari nol. Sebab, “nol” itu sebenarnya tak pernah ada.
Anak-anak sehat karena cinta, kerja keras, dan ketekunan orang tuanya. Negara boleh bantu, tapi jangan menghapus. Keberhasilan tumbuh kembang anak bukan milik kekuasaan. Ia milik keluarga yang dari awal bertanggung jawab dengan tulus. Bukan dengan seremoni.
Klaim BGN itu bukan cuma keliru. Ia melukai rasa keadilan. Menyesatkan, karena menyederhanakan proses panjang jadi satu variabel tunggal. Saat negara bicara tanpa kerendahan hati, yang terluka bukan data. Tapi martabat orang-orang yang diam-diam telah berjuang lama.
"
Pemerhati sosial di Bandung
Artikel Terkait
DPR Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden, Wacana Kementerian Ditutup
Utut Adianto Tantang Komdigi: Buat Apa Ada Kementerian Ini?
Tangan Terikat, Guru SD Tewas: Pelaku Diduga Teman Dekat Masih Buron
Fidan: Dewan Perdamaian Gaza Bisa Jadi Titik Balik Bersejarah