Walikota Sabang Bikin Heboh: Usul Ganja Medis untuk Dongkrak Ekonomi Aceh, Ini Alasannya!

- Jumat, 24 Oktober 2025 | 14:20 WIB
Walikota Sabang Bikin Heboh: Usul Ganja Medis untuk Dongkrak Ekonomi Aceh, Ini Alasannya!

Walikota Sabang Usul Legalisasi Ganja Medis untuk Dongkrak Ekonomi Aceh

BANDA ACEH - Walikota Sabang Zulkifli Adam mengusulkan legalisasi ganja untuk kepentingan medis dalam pertemuan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dengan Forkopimda Aceh. Gagasan kontroversial ini diungkapkan di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Selasa (21/10/2025).

Zulkifli Adam, yang akrab disapa Teungku Agam, menekankan bahwa usulan ini khusus untuk produksi medis, bukan konsumsi bebas. "Ini semata-mata untuk produksi medis," tegas Walikota Sabang tersebut.

Ganja Medis sebagai Solusi Ekonomi Aceh

Usulan legalisasi ganja medis di Aceh dianggap sebagai alternatif peningkatan ekonomi daerah, terutama menyongsong berakhirnya Dana Otonomi Khusus (Otsus) pada 2027. Menurut Zulkifli, budidaya ganja medis berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan.

Belajar dari Kesuksesan Thailand

Walikota Sabang mengangkat contoh kesuksesan Thailand melegalkan ganja medis. Di Thailand, harga ganja mencapai Rp30 juta per kilogram. "Kalau di Aceh dijual setengahnya saja, Rp15 juta per kilo, pasti laku keras," ujarnya disambut reaksi peserta forum.

Kesadaran akan Pro-Kontra

Zulkifli menyadari usulannya bisa menimbulkan pro-kontra. Ia meminta maaf kepada unsur Forkopimda, termasuk Kapolda dan Kajati Aceh, atas keberaniannya melontarkan ide tak lazim di forum resmi. Penekanannya tetap pada peningkatan pendapatan daerah.

Pernyataan Penutup yang Menggugah

Dengan nada serius, Zulkifli menutup pernyataannya: "Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mohon izin menanam ganja secara legal. Tanah Aceh sangat subur dan kami ingin solusi cepat untuk masa depan ekonomi daerah."

Usulan Walikota Sabang ini langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pejabat dan publik Aceh. Wacana legalisasi ganja medis kembali mengemuka, kali ini dari ujung barat Indonesia, menawarkan perspektif baru untuk masa ekonomi Aceh pasca-Otsus.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar