Konflik AS-Iran Masih Tanpa Titik Terang Tiga Bulan Pasca Serangan Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran

- Senin, 01 Juni 2026 | 22:20 WIB
Konflik AS-Iran Masih Tanpa Titik Terang Tiga Bulan Pasca Serangan Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara upaya mencapai kesepakatan damai masih menemui jalan buntu. Kedua pihak terus saling melancarkan serangan di tengah ketiadaan titik terang dalam perundingan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Konflik bersenjata antara kedua negara pecah pada 28 Februari 2026, dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap infrastruktur militer Iran. Peristiwa itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu eskalasi kekerasan yang berlangsung hingga kini.

Tiga bulan telah berlalu sejak pertempuran dimulai, namun belum ada tanda-tanda penyelesaian yang konkret. Upaya perundingan damai tingkat tinggi sempat digelar di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu, 11 April, namun hasilnya belum membuahkan kesepakatan.

Gencatan senjata sempat diberlakukan dalam beberapa kesempatan, dan negosiasi terus dilanjutkan. Meski demikian, hingga hari ini, kedua pihak belum mampu mencapai kata sepakat yang dapat mengakhiri konflik.

Proses negosiasi berjalan alot dan tidak mudah. Masing-masing pihak bertahan pada posisi dan tawaran yang diajukan, sehingga jalan menuju perdamaian masih terjal. Diplomasi keras, saling ancam, dan baku serang yang tak terhindarkan mewarnai setiap tahapan perundingan yang telah berlangsung lebih dari sebulan.

Mohammad Bagher Ghalibaf, perunding utama Iran yang juga menjabat sebagai ketua parlemen, menyampaikan peringatan tegas bahwa Amerika Serikat tidak dapat dipercaya. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sebelum hak-hak rakyat Iran dijamin sepenuhnya.

“Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan,” ujar Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Senin, 1 Juni 2026.

Ghalibaf menambahkan bahwa para negosiator Iran “tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya”. Pernyataan itu muncul setelah laporan media-media AS, seperti New York Times dan Axios, pada Sabtu, 30 Mei, menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan versi revisi dari kerangka kerja perdamaian yang diusulkan. Revisi tersebut dikabarkan memuat persyaratan yang lebih keras untuk dipertimbangkan oleh Iran.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar