Namun begitu, sorotannya tak berhenti di situ. Gus Umar lalu mengalihkan perhatian ke sosok Gibran. Ia mempertanyakan bagaimana publik seharusnya menilai figur wapres yang, dalam pandangannya, lahir dari proses yang tak mulus.
"Kalian kasih nilai berapa ke Gibran sebagai wapres, yang lahir dari proses obrak-abrik konstitusi ini?"
Sindirannya jelas dan terdengar keras. Bagi Gus Umar, polemik perubahan aturan main menjelang pemilu itu bukan hal sepele. Itu akan menjadi catatan kelam sejarah demokrasi kita. Legitimasi seorang pemimpin, tegasnya, tak cuma dilihat dari angka kemenangan di kotak suara. Tapi juga dari proses yang dilaluinya. Apakah proses itu jujur, adil, dan menghormati aturan dasar negara?
Reaksi warganet pun beragam. Ada yang bersorak, menganggap kritik ini sebagai bentuk koreksi yang diperlukan agar kekuasaan tak lepas kendali. Tapi tak sedikit pula yang mengelus dada. Mereka menilai pernyataan seperti ini justru bisa memicu api lama yang belum padam, memperpanjang suasana polarisasi yang sudah cukup melelahkan.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari tim Prabowo Subianto maupun Gibran Rakabuming Raka. Isu ini masih mengambang, menunggu apakah akan ada jawaban ataukah hanya akan tenggelam dalam hiruk-pikuk politik lainnya.
Artikel Terkait
Uang Nonteknis dan Administrasi: Kode Rahasia Suap di Balik Sertifikasi K3
Kemenkes Kerahkan Ribuan Nakes Tangkal Wabah Campak di Daerah Bencana
Longsor Cisarua Tewaskan 23 Marinir, Pencarian Terhambat Medan Berat
Longsor di Pemalang Tewaskan Anak, Ayah Masih Dicari di Tengah Cuaca Ekstrem