Yang bikin was-was, ancamannya masih mengintai. Tim ahli masih menemukan indikasi sumbatan-sumbatan serupa di bagian hulu sungai lainnya. Bayangkan jika hujan dengan intensitas tinggi datang lagi. Air akan terakumulasi di balik sumbatan itu, dan risiko untuk jebol kembali sangat nyata. Kiriman lumpur bisa meluncur ke hilir kapan saja.
Lalu, apa yang bisa dilakukan warga? Imam bilang, ada tanda visual yang sering luput dari perhatian. Ia meminta masyarakat di sepanjang bantaran sungai untuk jeli memantau debit air saat hujan. Jika air tiba-tiba keruh pekat atau debitnya naik drastis, itu bisa jadi alarm.
Hidup di sempadan sungai, menurutnya, memang punya risiko tinggi terhadap debris flow atau aliran debris. Karena itu, mitigasi ke depan nggak bisa cuma mengandalkan penghijauan. Perlu langkah struktural yang lebih konkret.
"Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran," kata Imam.
Ia menyarankan pembangunan penghalang khusus (debris flow barrier) dan sistem pemantauan jalur aliran menggunakan geofon atau sensor getaran. Fokusnya harus pada pengendalian sedimennya. Kalau cuma mengatur airnya, percuma. Material batu dan lumpur itulah yang menghancurkan segalanya.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi Buka Suara soal Nasib 28 Perusahaan di Kawasan Hutan
Kapolri Klaim Operasi Narkoba Selamatkan 1,79 Miliar Jiwa
Ega Terseret Arus Ciliwung, Ditemukan 12 Kilometer dari Lokasi Kejadian
Kisah Hogi Minaya: Mengejar Penjambret, Berujung Jerat Hukum