Suasana di Pasar Senen Jaya Blok 1 dan 2 memang tak seramai dulu. Sejak pandemi COVID-19, pembeli tekstil di salah satu sentra kain Jakarta ini berkurang drastis. Padahal, di sini kita bisa menemukan beragam tekstil khas Sumatera yang warnanya memikat.
Pada Senin (19/1) lalu, kami menyusuri satu lorong di lantai dasar. Deretan toko di sana dipenuhi kain-kain tradisional. Destry, pemilik toko Kade Ulos yang berusia 39 tahun, dengan ramah menunjukkan koleksinya. Ada ulos dan tumtuman khas Sumatera Utara, tak lupa songket cantik dari Palembang. Beberapa aksesoris kepala juga terpajang rapi. Harganya? Bervariasi sekali, dari ratusan ribu sampai harus merogoh kocek jutaan rupiah.
"Ulos itu banyak jenisnya, tidak semuanya sama. Kalau songket Palembang juga begitu," jelas Destry.
Ia lalu merinci, "Yang harganya di bawah Rp100 ribu ada, yang Rp3 atau Rp5 juta juga ada. Semua tergantung bahannya. Untuk tumtuman, biasanya di atas Rp1 juta."
Kain songket Sumatera Selatan, menurutnya, juga dibanderol mulai Rp1 juta ke atas.
Meski tokonya di blok ini baru tiga tahun, usaha Destry sebenarnya sudah lama. Toko pertamanya berdiri di Pasar Senen Blok 6 sejak dua dekade lalu. Ia pindah setelah pembangunan Pasar Senen Jaya rampung.
Di sisi lain, Destry tak hanya mengandalkan penjualan offline. Ia membuka lapak online juga. Pelanggannya ternyata tak cuma perantau Sumatera yang kangen kampung halaman. Justru kebanyakan pembelinya orang Jakarta asli.
"Kalau dari luar kota sih ada, tapi jarang," ujarnya.
Artikel Terkait
KUR 2025 Tembus Rp 270 Triliun, Serap Jutaan Pekerja Baru
Wall Street Terkapar, Tarif Fantastis Trump ke Eropa Picu Panik Pasar
Ahmad Yani Ambil Alih Pucuk Pimpinan Pertamina Geothermal, Pacu Target 1,8 GW
Kemenperin Godok Aturan Baru untuk Permudah IKM Akses Bahan Baku Impor