Dari Ulos hingga Songket: Kisah Pedagang Kain Tradisional di Pasar Senen yang Bertahan di Tengah Sepi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 03:06 WIB
Dari Ulos hingga Songket: Kisah Pedagang Kain Tradisional di Pasar Senen yang Bertahan di Tengah Sepi

Suasana di Pasar Senen Jaya Blok 1 dan 2 memang tak seramai dulu. Sejak pandemi COVID-19, pembeli tekstil di salah satu sentra kain Jakarta ini berkurang drastis. Padahal, di sini kita bisa menemukan beragam tekstil khas Sumatera yang warnanya memikat.

Pada Senin (19/1) lalu, kami menyusuri satu lorong di lantai dasar. Deretan toko di sana dipenuhi kain-kain tradisional. Destry, pemilik toko Kade Ulos yang berusia 39 tahun, dengan ramah menunjukkan koleksinya. Ada ulos dan tumtuman khas Sumatera Utara, tak lupa songket cantik dari Palembang. Beberapa aksesoris kepala juga terpajang rapi. Harganya? Bervariasi sekali, dari ratusan ribu sampai harus merogoh kocek jutaan rupiah.

"Ulos itu banyak jenisnya, tidak semuanya sama. Kalau songket Palembang juga begitu," jelas Destry.

Ia lalu merinci, "Yang harganya di bawah Rp100 ribu ada, yang Rp3 atau Rp5 juta juga ada. Semua tergantung bahannya. Untuk tumtuman, biasanya di atas Rp1 juta."

Kain songket Sumatera Selatan, menurutnya, juga dibanderol mulai Rp1 juta ke atas.

Meski tokonya di blok ini baru tiga tahun, usaha Destry sebenarnya sudah lama. Toko pertamanya berdiri di Pasar Senen Blok 6 sejak dua dekade lalu. Ia pindah setelah pembangunan Pasar Senen Jaya rampung.

Di sisi lain, Destry tak hanya mengandalkan penjualan offline. Ia membuka lapak online juga. Pelanggannya ternyata tak cuma perantau Sumatera yang kangen kampung halaman. Justru kebanyakan pembelinya orang Jakarta asli.

"Kalau dari luar kota sih ada, tapi jarang," ujarnya.

Soal omzet, Destry enggan berbagi detail. Yang pasti, ia mengakui pendapatannya menurun sejak pandemi melanda.

Tak jauh dari toko Destry, ada Toko Songket Pergaulan. Kaler, sang pemilik yang berusia 59 tahun, bercerita bahwa tokonya khusus menjual kain dari Sumatera Utara. Asal kain-kain itu pun beragam.

"Kebanyakan dari Tarutung, ada juga yang dari Balige," kata Kaler.

Menurutnya, harga ulos di tokonya mulai Rp100 ribu hingga yang termahal Rp3 juta. Sementara tumtuman dijual sekitar Rp900 ribu sampai Rp1 juta. Kain-kain ini banyak dibeli untuk keperluan pernikahan.

"Misalnya, keluarga perempuan memberi ulos ke mempelai laki-laki. Biasanya mereka pilih yang bagus, bisa sampai Rp3 juta. Tapi kami menyesuaikan saja dengan kemampuan pembeli. Ada yang cari yang sedang-sedang," jelasnya.

Kaler kini mengelola dua toko: satu di Blok 6 dan satunya lagi di sini, di Blok 1 dan 2. Ia merasakan betul dampak pandemi. Pembeli sepi. Untuk mengatasinya, ia mulai berjualan live di TikTok.

"Sekarang memang agak menurun. Persaingan dengan online shop juga ketat," keluhnya.

"Kalau punya toko fisik kan ada biaya tambahan seperti pajak. Sedangkan jualan online seringkali bebas dari itu. Ya, harus bisa beradaptasi," tutup Kaler sambil mengatur kembali kain di etalasenya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler