Persoalan lain yang disoroti adalah keputusan Indonesia bergabung dengan 'Board of Peace' gagasan Donald Trump. Felix menyebutkan angka yang fantastis: Rp1,6 triliun untuk keterlibatan itu. Baginya, keadilan dewan itu patut dipertanyakan. Bagaimana mungkin solusi untuk Palestina bisa lahir dari forum yang diisi tokoh seperti Tony Blair atau Benjamin Netanyahu?
"Ini jelas-jelas penjajahan gaya baru, kesewenang-wenangan," lanjutnya.
Di sisi lain, Felix merasa publik dan pemerintah seperti didorong untuk tidak bisa berpikir jernih. Semuanya, katanya, menjadi pemberi legitimasi bagi kezaliman yang nyata-nyata terjadi. Pertanyaannya sederhana: mengapa prioritas untuk Palestina dan pengadilan bagi penjahat perang tak pernah menjadi narasi utama?
"Kita dipaksa menjadi legitimasi bagi kezaliman yang sedang terjadi," pungkas Felix.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana atau Kementerian Luar Negeri mengenai kritikan tersebut. Suara Felix Siauw masih menggantung, menunggu respons.
Artikel Terkait
Aktivis Muhammadiyah Soroti Pencabutan HGU: Prabowo Tunjukkan Ketegasan Lawan Oligarki
Polemik Masjid Liliba: Pemkot Kupang Tegaskan Aturan, Bukan Penolakan
Gus Umar Sindir Gibran: Wapres Hasil Obrak-abrik Konstitusi
Gadis 9 Tahun Terseret Motor Usai Berjuang Pertahankan HP dari Pencuri