Penampilan Jadi Tuhan Baru: Saat Penilaian Hanya Berhenti di Kulit Luar

- Senin, 26 Januari 2026 | 03:06 WIB
Penampilan Jadi Tuhan Baru: Saat Penilaian Hanya Berhenti di Kulit Luar

Yang memprihatinkan, generasi muda tumbuh dalam tekanan ini. Sejak dini mereka diajari bahwa diterima berarti harus tampil menarik. Popularitas dianggap lebih penting daripada kejujuran. Terlihat bahagia lebih utama daripada benar-benar merasakannya. Di balik layar yang penuh warna, banyak jiwa muda justru merasa hampa, cemas, dan kehilangan arah.

Namun begitu, harapan itu masih ada. Kesadaran bisa tumbuh kalau kita mau berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Benarkah nilai seseorang hanya ada di penampilannya? Adilkah menilai orang dari cara dia berpakaian? Pantaskah kita menyimpulkan karakter seseorang hanya dari permukaannya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini penting untuk mengembalikan kewarasan kita.

Memang, penampilan itu penting. Ia adalah bagian dari ekspresi diri, bentuk penghargaan pada diri sendiri. Tapi ia tak layak jadi tuhan. Ia tak boleh menggantikan akal sehat, hati nurani, dan moral sebagai tolok ukur utama. Penampilan seharusnya cuma jadi pintu perkenalan, bukan vonis akhir.

Ketika seseorang berpakaian dengan gaya tertentu, itu bukan alasan untuk memberinya cap negatif. Ketika seseorang tampil berbeda, itu tak lantas membuatnya buruk. Kita tak pernah tahu perjuangan hidup seseorang hanya dari bajunya. Kita juga tak bisa menilai ketulusan hati hanya dari gaya bicaranya. Manusia itu terlalu kompleks untuk diringkas dalam tampilan luar.

Pada akhirnya, peradaban yang sehat adalah yang mampu melihat lebih dalam. Yang menilai seseorang dari tindakan nyata, bukan dari tampilan. Dari niat dan kejujuran, bukan dari estetika atau popularitas semata. Jika kesadaran ini bisa tumbuh, penampilan akan kembali ke tempatnya yang semestinya. Bukan sebagai tuhan baru, tapi cuma sebagai bagian kecil dari identitas kita.

Dan saat itulah, kita tidak lagi diperbudak oleh cermin. Kita bisa benar-benar merdeka menjadi diri sendiri.

Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas, Fakultas Ilmu Komputer.


Halaman:

Komentar