Selama masa kepresidenannya dulu, Trump secara terang-terangan memihak Israel. Dia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan AS ke sana. Langkah itu sebuah pukulan telak bagi aspirasi Palestina.
Lalu, mengapa beberapa negara Timur Tengah dikabarkan akan mendukung dewan ini? Mungkin ada pertimbangan politik praktis di sana. Tapi bagi rakyat Palestina, ini bisa jadi jebakan.
Apa yang dilakukan Trump, bersama dewan yang dibentuknya, berisiko melemahkan perjuangan kemerdekaan. Apalagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sudah berulang kali menolak ide negara Palestina yang merdeka. Keduanya seolah berada di frekuensi yang sama.
Jadi, bisakah Dewan Perdamaian Gaza ini diharapkan? Rasanya sulit. Perdamaian sejati bukan cuma soal membangun kembali gedung atau jembatan yang megah. Intinya adalah keadilan dan kedaulatan. Rakyat Gaza butuh negara merdeka, bukan sekadar infrastruktur baru di atas tanah yang masih terjajah. Dan sayangnya, hal itu justru tidak ada dalam agenda Trump dan Netanyahu.
Artikel Terkait
Moving: Drama Superhero Korea yang Curi Perhatian dan Raih Daesang
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah