Sebelumnya, rombongan Forum Aksi yang beranggotakan sembilan organisasi masyarakat memang sudah berada di Aceh sejak pertengahan Januari. Mereka menyalurkan bantuan kemanusiaan mulai dari sembako, obat-obatan, hingga bantuan psikososial untuk anak-anak di sejumlah desa terdampak. Namun, setelah melihat langsung kondisi kebun yang porak-poranda, perhatian mereka tertuju pada ancaman jangka panjang: kelangsungan hidup perkebunan kopi rakyat.
Saturdaya pun mendesak tindakan nyata. Ia menegaskan bahwa kopi Aceh adalah komoditas strategis, bukan cuma untuk daerah tapi juga secara nasional.
Namun begitu, pemulihannya tidak akan instan. Charis memperkirakan dampak sosial-ekonominya akan berlangsung lama. Butuh kesabaran dan dukungan berkelanjutan.
Jelas, bencana ini meninggalkan luka yang dalam. Di balik segelas kopi Aceh yang harum, kini ada cerita tentang tanah yang terluka dan petani yang berjuang untuk bertahan.
Artikel Terkait
Tim SAR Siap Lanjutkan Pencarian di Gunung Burangrang, Modifikasi Cuaca Digelar
Meninggal di Usia 26, Lula Lahfah Jadi Korban Silent Killer Henti Jantung
Tito Karnavian Buka Huntara di Agam, Desak Data Korban Segera Diselesaikan
Prabowo di Davos: Diplomasi Ekonomi dan Langkah Berani di Panggung Retak