Dengan struktur seperti ini, wajar saja kalau demonstrasi menyangkut isu ekonomi seperti yang terjadi belakangan sasaran utamanya adalah Presiden dan jajaran kabinetnya. Bukan Supreme Leader.
Mengapa? Ya karena urusan harga sembako, nilai tukar mata uang, hingga kebijakan fiskal, itu ranah pemerintah. Bukan wewenang langsung Ayatullah Khamenei.
Makanya, ketika muncul teriakan "mati diktator" dalam unjuk rasa yang sebenarnya bermula dari tuntutan ekonomi, itu jadi terasa janggal. Seolah-olah salah sasaran. Tuntutan publik lebih rasional jika diarahkan pada kinerja tim ekonomi Pezeshkian.
Dan kecewa itu ada alasannya. Ambil contoh, Pezeshkian baru saja memecat kepala bank sentral. Tapi penggantinya justru Dr. Hemmati, figur lama dari era pemerintahan sebelumnya yang di mata banyak pengamat pasar dinilai gagal memberikan stabilitas. Alih-alih perubahan, langkah ini malah dianggap sebagai pengulangan pola lama.
Reaksi pasar pun bisa ditebak: bergejolak. Protes damai dari pelaku usaha menjadi hal yang lumrah dalam situasi seperti ini. Situasi makin keruh ketika Hemmati malah absen dalam sidang parlemen penting yang membahas kebijakan ekonomi akhir tahun. Kejadian itu memicu teguran keras dari anggota dewan, dan memperkuat kesan bahwa tim ekonomi pemerintah terlihat setengah hati.
Jadi, dari sudut pandang struktur politik dan dinamika dalam negeri Iran, demonstrasi ekonomi yang menuntut pertanggungjawaban presiden itu sangat masuk akal. Namun, seringkali gerakan sah ini dibajak oleh pihak-pihak tertentu dari luar, yang mengubahnya menjadi isu penggantian rezim. Maka tak heran, banyak warga Iran yang justru turun ke jalan menunjukkan dukungannya pada pemimpin mereka. Mereka ingin menyuarakan bahwa rakyat Iran masih berdiri di belakang Ayatullah Khamenei.
(Ismail Amin)
Artikel Terkait
Tim SAR Siap Lanjutkan Pencarian di Gunung Burangrang, Modifikasi Cuaca Digelar
Meninggal di Usia 26, Lula Lahfah Jadi Korban Silent Killer Henti Jantung
Tito Karnavian Buka Huntara di Agam, Desak Data Korban Segera Diselesaikan
Prabowo di Davos: Diplomasi Ekonomi dan Langkah Berani di Panggung Retak