Siklon Luana di Australia Picu Angin Kencang Landa Yogyakarta

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 14:06 WIB
Siklon Luana di Australia Picu Angin Kencang Landa Yogyakarta

Sabtu lalu, Yogyakarta diguncang angin kencang. Bukan angin biasa, tapi teriakan kencang yang menggoyang atap dan merontokkan daun-daun. Wilayah seperti Pakem di Sleman merasakan dampaknya cukup kuat, dengan tiupan yang bikin was-was.

Menurut Warjono, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, cuaca ekstrem ini punya kaitan dengan sebuah pusaran badai jauh di sana.

“Angin kencang yang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Sleman seperti di Kepanewon Pakem dan sekitarnya dipicu oleh aktivitas angin kencang di lapisan udara atas yakni 925 mb (762 meter) di sekitar wilayah Jawa dengan kecepatan berkisar antara 10 – 45 Knots (18 - 83 km/jam),” jelas Warjono.
“Hal ini diakibatkan pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis ‘Luana’ di sekitar pantai barat laut Australia, sehingga dataran yang bertopografi yang cukup tinggi berpotensi terdampak oleh angin kencang tersebut,” tambahnya.

Jadi, biang keroknya adalah Siklon Tropis Luana yang berpusat di lepas pantai Australia. Efeknya merambat, mengacak-acak pola angin di lapisan atas, dan akhirnya menghantam daerah dengan topografi tinggi. Alam memang punya cara kerja yang rumit.

Namun begitu, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini sifatnya lokal dan sementara. Meski begitu, ancamannya nyata. Pohon tumbang atau kerusakan ringan pada bangunan sangat mungkin terjadi.

“Fenomena ini bersifat lokal dan sementara, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak seperti pohon tumbang dan kerusakan ringan bangunan. Hingga 3 hari ke depan masih ada potensi,” ujarnya.

Imbauannya jelas: masyarakat perlu waspada. Kalau keluar rumah, perhatikan sekitar. Hindari berteduh di bawah pohon yang sudah tua atau baliho yang tampak tidak kokoh. Lebih baik cari tempat yang aman ketika angin mulai menderu-deru.

Kondisi seperti ini diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari ke depan. Jadi, bersiap-siaplah. Jogja yang biasanya tenang, kali ini mendapat teguran dari angin.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar