Normalisasi Ketidakadilan
Narasi perdamaian yang dipisahkan dari keadilan hanyalah ilusi. Perdamaian sejati mensyaratkan pengakuan atas hak menentukan nasib sendiri, seperti yang dijamin hukum internasional. Selama akar konflik yaitu pendudukan dan kolonialisme tidak diselesaikan, maka proyek apapun di Gaza hanyalah polesan kosmetik di atas luka yang masih menganga.
Ada ironi pahit di sini. Penderitaan warga Gaza justru sering dipresentasikan sebagai "peluang". Saat reruntuhan dianggap sebagai lahan kosong, dan trauma kolektif dilihat sebagai halaman baru untuk berinvestasi, itu artinya kemanusiaan telah dikalahkan oleh logika pasar yang dingin.
Gaza Bukan Lahan Kosong
Gaza adalah rumah. Rumah bagi anak-anak yatim yang kehilangan pelukan orang tua, bagi para ibu yang gigih bertahan di pengungsian, bagi satu generasi yang tumbuh dengan dentuman bom sebagai pengantar tidur. Tanah yang telah dibasahi darah para syuhada tidak pantas sama sekali diperlakukan sebagai komoditas global.
Rekonstruksi yang sejati harus dimulai dari pengembalian hak, bukan sekadar penataan fisik. Dunia sebenarnya tidak kekurangan dana untuk Gaza. Yang lebih langka adalah keberanian politik untuk benar-benar menghentikan ketidakadilan yang terjadi.
Jika Gaza dibangun tanpa kebebasan, maka yang lahir bukan perdamaian. Itu hanyalah bentuk baru dari penguasaan. Dan kelak, sejarah akan mencatatnya dengan nada yang sama: ketika keadilan diabaikan, pembangunan hanyalah wajah lain dari penjajahan itu sendiri.
Selvi Sri Wahyuni, M.Pd.
Artikel Terkait
Hujan Deras Landa Bekasi, Delapan Kecamatan Terendam dan Longsor Mengancam
Board of Peace Trump: Rekonstruksi Gaza atau Arsitektur Kolonial Baru?
SP-3 untuk Eggi Sudjana: Kemenangan Hukum atau Bunuh Diri Politik?
Longsor Dini Hari di Cisarua, Satu Tewas dan Puluhan Diduga Tertimbun