Keputusan Shayne Pattynama memperpanjang kontrak dengan Persija Jakarta sampai 2028 ternyata bikin riuh. Di kalangan penggemar bola tanah air, pilihannya ini memantik perdebatan yang cukup sengit.
Di usia 27 tahun, yang bagi banyak pemain adalah puncak karier, Shayne justru memantapkan diri di Liga Indonesia. Bagi sebagian orang, itu terlihat seperti langkah mundur. Masa-masa emasnya, pikir mereka, seharusnya dihabiskan untuk bertarung di kompetisi Eropa.
Kritikan itu sampai ke telinganya, tentu saja. Tapi saat ditemui di Persija Training Ground, Sawangan, Rabu lalu, respon Shayne justru mengejutkan. Alih-alih membela diri, bek kiri Timnas itu malah terlihat reflektif. Bahasanya lugas, to the point.
Baginya, meremehkan kompetisi lokal sama saja dengan merendahkan sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Gagasan bahwa pindah ke Persija adalah bentuk "pensiun dini" pun ia tolak mentah-mentah.
“Saya datang ke sini bukan untuk menurunkan standar, tapi justru untuk menaikkan level,” tegas Shayne.
Teguran Keras: Jangan Rendahkan Indonesia
Shayne mengakui, ekspektasi terhadap pemain diaspora seperti dirinya memang besar. Semua ingin mereka tetap bersinar di Eropa. Yang ia sesali adalah narasi yang kemudian muncul: bahwa Liga Indonesia itu buruk, tidak berkualitas, dan jadi pilihan terakhir.
Padahal, menurut Shayne, cara pandang seperti itu justru bikin rugi sendiri. Kontraproduktif. Bagaimana sepak bola nasional mau maju kalau liganya sendiri terus-terusan dihujat?
“Ketika orang berkata, ‘Jangan ke Indonesia, liganya jelek’, itu sama saja dengan meremehkan Indonesia. Dan itu tidak baik. Kalau ingin Tim Nasional berkembang, liganya juga harus berkembang,” ujarnya.
Lebih Dari Sekadar Main Bola
Kontraknya yang panjang hingga 2028 itu bukan cuma soal urusan bisnis. Shayne melihat dirinya, bersama pemain diaspora lain seperti Thom Haye atau Jordi Amat, punya peran lebih besar. Mereka adalah bagian dari gelombang transformasi yang digaungkan PSSI.
Harapannya sederhana: pengalaman dan standar profesional ala Eropa yang mereka bawa bisa menular. Menciptakan efek berantai, meningkatkan kualitas liga baik secara teknis maupun mental.
“Kita harus saling membantu untuk maju,” katanya. “Kalau isinya hanya kritik dan komentar negatif tanpa keseimbangan, itu tidak akan membawa manfaat bagi negara ini.”
Sebuah Gelombang yang Disengaja
Fenomena kepulangan pemain-pemain kunci Timnas ke BRI Liga 1 memang sedang terjadi. Shayne ada di garda depan. Ia mengajak semua pihak melihatnya dengan optimisme, bukan pesimisme.
Memang, jalan menuju peningkatan kualitas liga itu panjang dan berliku. Tapi menurut Shayne, langkah ini adalah bagian dari proses yang tak terhindarkan. Sebuah kontribusi nyata.
“Saya paham semua orang ingin yang terbaik untuk kami. Tapi ini juga bagian dari proses perkembangan sepak bola Indonesia,” pungkasnya. Sentuhan akhir dari seorang pemain yang rupanya punya misi jauh lebih besar sekadar menyundul bola dan menghalau serangan.
Artikel Terkait
Borneo FC Berpeluang Geser Persib dari Puncak Klasemen Usai Hadapi Persik Kediri
Herdman Panggil 23 Pemain untuk TC Jelang Piala AFF 2026, Marselino Jadi Satu-satunya Pemain Abroad
Persebaya Hajar Arema 4-0, Strategi Serangan Balik Bernardo Tavares Kembali Terbukti Efektif
PSG Hajar Bayern 5-4 di Leg Pertama Semifinal Liga Champions